Pages

Monday, April 6, 2015

PUISI (iii) "SUPER HERO"

"SUPER HERO"
Oleh Aliza Kusuma

Dia bukanlah kelelawar serba hitam
Yang membasmi badut-badut gila
Dia bukanlah pria super kuat
Yang bekerja di kolom berita
Dia bukanlah gumpalan daging hijau
Hasil percobaan militer yang gagal
Dia bukanlah ilmuwan kaya raya
Yang bisa meluncur seperti roket
Dia juga bukanlah laba-laba
Yang merangkak dari gedung ke gedung

Dia hanyalah kakek tua
Yang berbecek-becek dengan sapinya
Dia hanyalah seorang ayah
Yang mengaduk semen untuk anaknya
Dia hanyalah nenek pikun
Yang tak digaji atas ilmunya
Dia hanyalah laki-laki di pinggir jalan
Yang ditemani sapu andalannya
Dan dia hanyalah seorang ibu
Yang merintih kesakitan,
untuk jiwa baru yang bahagia

Anakku, mereka adalah super hero sesungghuhnya.

DONGENG (i) "CINDERELLA" (ADAPTASI)



"CINDERELLA" (Adaptasi)
Oleh Aliza Kusuma



Prolog

Suatu hari, di sebuah desa yang kecil, tak jauh dari kerajaan, tinggallah sebuah keluarga yang sejahtera. Keluarga ini sangatlah kaya. Seorang suami yang baik dan bijaksana, dan istri yang cantik jelita, dan mereka berdua mempunyai seorang anak perempuan lucu dan cantik seperti ibunya. Namanya Cinderella. Cinderella adalah anak yang baik, patuh, dan suka menolong. Bahkan tikus yang tengah terjebak dalam perangkap pun ia tolong, itu lah Cinderella.

Cinderella kini beranjak dewasa, usianya saat ini adalah delapan belas tahun. Cantiknya semakin mirip, bahkan melebihi ibunya. Namun di hari bahagia saat ulang tahunnya, Cinderellah harus kehilangan ibunya tercinta, dan kini Cinderella hanya tinggal bersama ayahnya.

Tak jauh dari rumah Cinderella, tinggallah seorang janda tua nan cantik, dengan dua anak perempuannya. Mereka amat baik kepada keluarga Cinderella. Hingga pada akhirnya ayah Cinderella menikahi janda tersebut, karna tak tega melihat Cinderella yang sedih atas kematian ibunya.

Saat ini Cinderella mempunyai ibu dan dua adik tiri.

Ayah Cinderella adalah seorang pengembara, dan saat iru dia harus perggi ke suatu tempat nan jauh, bahkan harus menyebrangi pulau dengan sebuah kapal, sedangkan Cinderella tinggal di rumah bersama ibu dan dua adik tirinya. Hingga suatu hari, seorang ajudan mengirimkan surat atas kematian ayahnya kepada Cinderella. Kapal yang dinaiki ayah Cinderella tenggelam di laut karena badai.

Setelah kabar kematian ayah Cinderella. Semakin terlihat sifat asli ibu dan dua adik tiri Cinderella, mereka memperlakukan Cinderella layaknya seorang budak. Cinderella sangatlah tersiksa atas perlakuan ibu dan dua adik tirinya.

Suatu hari, anggota kerajaan mengumumkan ke seluruh penjuru desa, bahwa akan diadakan pesta dansa di istana. Sang raja ingin mencari mempelai wanita yang cocok untuk anaknya - Sang pangeran di pesta dansa tersebut.Mendengar kabar tersebut, ibu dan dua adik tiri Cinderella sangatlah tertarik, berharap salah satunya bisa menjadi mempelai wanita sang pangeran, tak terkecuali Cinderella. Namun ibu tirinyamelarangnya untuk bisa ikut dalam pesta dansa. Malam pesta dansa telah tiba, ibu dan dua adik tiri Cinderella berangkat ke istana, sedangkan Cinderella hanya bisa menangis karna tidak diperbolehkan ikut ke pesta dansa.

Di saat kesedihan melanda Cinderella, datanglah ibu peri, dengan tongkat ajaibnya. Dia mengatakan bahwa Cinderella akan tetap bisahadir di pesta dansa. Cinderella terlihat senang. Dibuatkanlah sebuah kereta kencana yang indah, beserta kusirnya untu Cinderella. Tak hanya itu, baju kusam Cinderella pun diubahnya menjadi gaun cantik yang berkilau, dan satu hal lagi, ibu peri pun memberikan Cinderella sepasang sepatu kaca indah agar dia terlihat sempurna di pesta dansa. Namun ibu peri mengatakan bahwa mantranya tak akan bertahan lama hingga suara lonceng tengah malam berbunyi.

Setibanya Cinderella di istana dengan kereta kencana buatan ibu peri, Cinderella pun memasuki istana. Semua mata tertuju padanya, seolah olah dia adalah putri kerajaan. Bahkan sang pangeran pun terpana melihatnya, dan kemudian mengajak Cinderella untuk berdasa bersamanya.




Di tengah indahnya aroma pesta dansa, dimana Cinderella terpana dengan ketampanan sang pangeran yang mengajaknya berdansa. Tiba-tiba, seisi istana bergetar kencang. Berhenti sejenak kemudian bergetar lagi.

 “Apa yang barusan tadi gempa bumi?” Teriak salah satu pengawal.

“Hadirin sekalian, harap tenang, ini hanya gempa bumi sesaat, mohon agar segera meninggalkan istana demi keamanan anda sekalian, Pintu keluarnya ada di sebelah barat istana.”

Pesta dansa yang indah, seketika itu juga menjadi kacau balau. Para pengunjung istana pun berhamburan keluar istana.

“Pangeran, sebenarnya apa itu tadi?” Ucap Cinderella.

“Tenanglah, itu hanya gempa bumi.”

“Tapi”

“Sudah, sudah, tidak apa-apa.” Kata pangeran di luar istana.

Tiba-tiba terdengar suara pepohonan yang tumbang dari arah utara istana. Suaranya begitu bising dan bahkan semakin mendekat. Terlihat burung-burung yang berterbangan dari balik pepohonan yang tumbang, dan kemudian muncul sesosok bayangan hitam yang sangat besar dia atas pepohonan tersebut.

“Apa itu, bayangan hitam yang besar itu?” Salah satu pengawal mulai ketakutan.

“Tenanglah kawan, itu hanya bayangan awan, mungkin akan terjadi hujan malam ini.”

Dengan adanya gempa bumi dan keributan dibalik pepohonan yang disertai bayangan hitam tadi, benar-benar mengacaukan pesta dansa sang raja. Istana yang tadi dipenuhi para tamu yang berdansa kini menjadi hening, semua pengunjung dipersilahkan untuk kembali ke rumahnya masing-masing, kecuali Cinderella.

“Semuanya! Cepat mausk ke istana!” Teriak salah satu pengawal.

“Cepat, kalian lindungi sang raja!”

“Pangeran, apa yang sebanarnya terjadi?”

“Aku … aku juga tak tahu.”

“Pengawal!”

“Iya tuan.”

“Ada apa sebenarnya ini?”

“Tuan, dan nyonya sebaiknya segera masuk ke dalam istanam, sekarang!” Kata pengawal yang sedang panic dan gugup.

“Tu … tunggu dulu, ada apa ini?”

Getaran  di istana semakin keras, namun para pengawal yang berjaga di bagian gerbang istana berhamburan lari, masuk ke dalam istana.

“Pengawal!, ada apa ...”

Pertanyaan pangeran terhenti seketika, ketika tatapannya menghadap ke langit dan melihat sesosok raksasa hijau yang mengerikan dengan perutnya yang buncit. Raksasa tersebut meraung dengan nada marah.

“Dimaanaa kaauu! Rrrgggh”

Sang pangeran segera menggenggam erat-erat tangan Cinderella dan menariknya berlari ke dalam istana.

“Cepat, kita harus berlindung!”

“Ohh, ohh baik pangeran.”

Pangeran dengan kencangnya berlari membawa Cinderella ke dalam istana. Namun tiba-tiba sang raksasa menghentakkan salah satu kakiknya dengan keras, sehingga mereka berdua terjatuh.

“Heey kaauu, wanita berambut emaas!”

“Siapa yang dia maksud?” Ucap pangeran.

“Berambut emas, apa mungkin itu aku?” Kata Cinderella.

“Kau wanita berambut emas! Mau kemana kaauu?”

“Larilah, cepat!” Kata pangeran.

“Tapi pangeran!”

“Beraninya kau lari darikuu!”

Cinderella pun tak tahu mengapa raksasa tadi mengincarnya. Namun Cinderella tak ingin lari, karena ingin terus bisa bersama pangeran.

“DING … DONG! DING … DONG!”

Bel tengah malam pun berbunyi.

Bukan ancaman raksasa yang Cinderella takuti, melainkan suara lonceng tengah malam tersebut. Cinderella teringat kata-kata ibu peri bahwa mantranya akan sirna saat tengah malam. Cinderella pun segera berlari menjauh dari istana, saking kencangnya, hingga salah satu sepatu kacanya terlepas dan terpaksa ia tinggalkan.

Sementara sang pangeran menghunuskan pedangnya ke arah raksasa, kemudian menancapkannya tepat di kaki kanan sang raksasa. Lalu kemudian sang pangerang berlari menyusul Cinderella.

Sang raksasa pun mencabut pedang yang ditancapkan pangeran, dan kemudian mengejar Cinderella.

“Dasaar wanita sialan! Kau tak bisa kabur darikuu! Rrrgggh!”

Cinderella benar-benar berlari jauh dari istana, hingga sang pangeran tak sempat menyusulnya.Namun hanya ada satu sepatu kaca yang pangeran ingat bahwa itu milik Cinderella.

Sang raksasa berjalan dengan langkahnya yang berat ke arah Cinderella kabur. Telapak kakinya yang lebar dan penuh dengan tanah, melayang di atas kepala yang pangeran dan melewatinya begitu saja.

“Sebenarnya siapa gadis cantik itu?”

Cinderella masih berlari kencang, walau dengan bertelanjang kaki. Sepatu kaca yang tersisa entah tertinggal dimana. Gaun dan kereta kencananya, kini telah berubah kembali menjadi barang-barang kusam tak berguna.

Getaran langkah sang raksasa masih terasa saat Cinderella berlari ke rumahnya. Belum sempat Cinderella tiba di depan pintu rumahnya. Kaki sang raksasa tadi tiba-tiba meremukkan bangunan tersebut.

“Mau lari keemaana kaauu? Whahahaha.”

Kaki sang raksasa terlihat berada di atas rumah Cinderella, yang kini rata dengan tanah. Tak hanya itu, ibu dan dua adik tirinya pun terlihat sudah terkapar di balik reruntuhan rumahnya.

“Sebenarnya, apa maumu?”

Melihat rumahnya yang hancur, Cinderella pun berhenti berlari dan memberanikan diri untuk berbicara dengan sang raksasa.

“Tidakkah kau sadar! Kau sudah menghancurkan pesta dansaku, dan lihat, sekarang kau hancurkan pula rumah, satu-satunya peninggalan ayahku! Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?”

“Apa kau bilang tadi? Ayah? Dia lebih pantas disebut penipu, dibandingkan disebut seorang ayah!”

“Penipu? Apa maksudmu?”

“Oh jadi dia tak member tahumu, rambut emas?”

Cinderella hanya bisa terdiam kebingungan atas kata-kata sang raksasa.

“Itu dulu sekali, saat kau belum ada! Aku adalah raksasa yang sangat makmur, sangat kuat, kekuatanku tak ada tandingannya. Hingga sang penipu …”

“Maksudmu ayahku?”

“Penipu!, dia datang lalu kemudian merampas satu-satunya harta berharga bagiku, sumber kekuatanku.”

“Harta apa? Ayahku bukan seorang pencuri.”

“Diam! Dia bilang dia akan membuat kekuatanku semakin besar, jika aku mengabulkan apa yang dia inginkan. Saat itu dia datang dan memohon kepadaku untuk diberikan seorang anak, karena istrinya yang mandul. Maka aku berikan kepadanya satu-satunya harta milikku. Sumber kekuatanku. Biji mentimun ajaib. Aku bilang padanya agar dia menanamnya, maka dia akan mempunyai seorang anak, namun dengan syarat, anak itu kelak akan menjadi milikku, sebagai pengganti kekuatanku.”

“Anak? Biji mentimun ajaib? Tidak … ini tidak mungkin!”

“Dan kau tahu, si penipu tak pernah kembali lagi padaku, sebagaimana yang ia janjikan saat itu.”

Mengetahui bahwa dia adalah anak di balik cerita sang raksasa. Cinderella segera lari menghindar dari amukan sang raksasa, ditemani perasaan bersedih bahwa ternyata dia adalah anak dari sebuah timun ajaib.

“Dasar anak penipu!”

Larinya Cinderella untuk kedua kalinya, membuat sang raksasa kian marah. Dia pun kembali mengejar Cinderella. Kemanapun Cinderella pergi, aroma mentimunnya takkan pernah bisa ia lupakan.

Cinderella berlari kea rah hutan, dimana banyak pepohonan, berharap agar pohon-pohon tersebut bisa menghambat sang raksasa.

Di saat Cinderella tengah bertarung dengan gelapnya malam di tengah hutan dan terus berlari menghindar dari kejaran sang raksasa. Tiba-tiba datanglah ibu peri, melayang dengan sayap-sayap tipisnya, mengiringi Cinderella yang masih berlari.

“Cinderella sayang, ibu peri tahu ini bukan waktu yang tepat untuk ngobrol, tapi ambillah ini nak, cepat, maaf ibu peri tidak bisa berlama-lama lagi, selamat tinggal!”

Tiga buah kantung kecil diberikan kepada Cinderella oleh ibu peri yang dalam sekejap langsung menghilang begitu saja.

Tepat setelah ibu peri menghilang, sang raksasa benar-benar sangat dekat dengan Cinderella, tangannya yang kokoh dan lebar, menghampiri Cinderella. Tak tahu apa yang harus dia lakukan, Cinderella pun melemparkan isi dari salah satu kantung kecil tadi ke tangan sang raksasa. Namun meleset, dan terjatuh di tanah. Ternyata sebuat bibit-bibit kecil, bibit-bibit tersebut tiba-tiba meresap ke dalam tanah dan dengan sekejap tanah tersebut menyemburkan air yang sangat banyak, semburannya sangat deras sederas air sungai, hingga sang raksasa terjungkir ke belakang.

“Ini berhasil, terimakasih ibu peri!” Kata Cinderella yang mulai terlihat senang.

Cinderella kemudian berlari lagi, selagi sang raksasa terjatuh. Namun dengan segera, sang raksasa bangkit dan mengejar Cinderella.

Akibat semburan air yang banyak tadi, tanah di sekitar sang raksasa menjadi sangat becek, dan itu menyulitkannya untuk melangkahkan kakinya.

“Dasar kau, wanita licik!”

Sang raksasa terus mengejar Cinderella, dan untuk kedua kalinya sang raksasa sudah sangat dekat dengan Cinderella.

“Kali ini takkan kubiarkan kau mengerjaiku lagi!”

Cinderella kembali melemparkan isi kantung lainnya ke arah sang raksasa. Namun kali ini sang raksasa menangkap isi kantung tersebut agar tidak terjatuh di tanah. Ternyata sebuah cabai. Genggaman sang raksasa begitu kuat sehingga menghancurkan cabai-cabai tersebut. Tiba-tiba muncullah akar-akar berduri dari balik genggaman tangan sang raksasa. Akar-akar berduri tersebut menyebar hingga ke tubuh sang raksasa, sehingga membuat kulitnya terluka dan kemudian terjatuh untuk kedua kalinya.

Kini Cinderella hanya mempunyai satu kantung lagi. Namun terlihat bahwa sang raksasa masih begitu kuat untuk menangkap Cinderella.

Cinderella berhenti berlari, dia terjebak diantara tebing-tebing tinggi yang mengelilinginya.  Sang raksasa semakin mendekat. Cinderella melihat isi kantung yang terakhir, ternyata sebuat kacang kedelai.

Ketika sang raksasa sudah sangat dekat dengannya, Cinderella pun melemparkan kacang-kacang tersebut ke tanah, tepat di ujung jari-jari kaki sang raksasa.

“Sekarang tak ada jalan keluar lagi untukmu rambut emas! Hahahaha!”

Tiba-tiba muncul genangan lumpur dari balik kaki sang raksasa, genangannya semakin lebar dan dalam, bahkan Cinderella pun tak bisa menghindar dari genangan tersebut. Tak ada jalan keluar lain selain memanjat tebing yang tinggi itu.

“Baiklah  rambut emas, aku rasa kita akan mati bersama disini!”

Genangan lumpur tersebut semakin lebar dan dalam, hingga setengah badan sang raksasa pun tenggelam di dalamnya.

“Ohh tidak, bagaimana ini?”

Tiba-tiba terdengar suara pria dari atas tebing.

“Hey gadis cantik, naik lah!”

Seuntas tali yang panjang menjulur dari atas tebing, Cinderella pun memanjat tebing dengan tali tersebut.

“Syukurlah kau selamat!”

Cinderella benar-benar terselamatkan dengan bantuan pria tadi, sedangkan sang raksasa telah tenggelam dan lenyap ke dalam lumpur tadi.

“Kau, kau seorang pangeran!” Kata Cinderella mengenali seragam pria tersebut.

“Tentu saja, gadis rambut emas!”

“Da … dari mana kau tahu? Aku sudah tak lagi memakai gaun itu?”

“Bagaimana aku tak tahu, seorang wanita cantik yang sedang dikejar-kejar oleh raksasa.”

Pangerang mengambil sesuatu dari kantung yang ada di kudanya. Sepasang sepatu kaca yang berkilau, kemudian menundukkan diri, memakaikan sepatu tersebut kepada Cinderella dan mereka berdua pulang bersama ke istana.

Keesokan harinya, sang pangeran pun melamar Cinderella, dan mereka kini hidup bahagia selamanya.



-Tamat-






Wednesday, April 1, 2015

CERPEN (iii) "RIANG ... OHH RIANG"

“RIANG …  OHH RIANG”
Oleh Aliza Kusuma

Ayam berkokok adalah pertanda seseorang harus bangun dari tidurnya. Tapi tidak buatku, tak ada ayam disini, yang ada hanya jangkrik. Ketika jangkrik berhenti berderik, aku bangun dari tempat tidurku, tempat tidur yang tak begitu nyaman, dank kau tahu, itu sedikit bau.Yang jelas bukan bauku, aku serius, aku cukup sering membersihkan diriku. Entah mungkin bau keringat orang-orang disini, mereka semua datang kesini setiap hari.  Sudah hampir setahun aku disini, di bangunan yang besar ini, banyak pepohonan disekitarnya. Namun, kebisingan yang entah dari mana datangnya, membuatku tak nyaman. Hanya disaat gelap kebisingan itu hilang, syukurlah, ada waktu dimana aku bisa tidur.

Jangkrik berhenti berderik, disitulah aku bangun. Tak ada waktu untuk tertidur lebih lama lagi, atau kau tak akan pernah bangun lagi. Aku sudah lama disini, itu benar. Maka dari itu, aku tahu rutinitas disini. Aku tahu semua jalan disini, tak susah buatku untuk mengenyangkan diriku. Walau terkadang aku harus berbagi dengan yang lainnya. Setiap hari, aku berjalan untuk hidupku. Aku tak seperti yang lainnya, yang kadang tidur di siang hari. Ya, ini lah hidup bagiku, hidup dalam kelalu-lalangan. Terkadang aku merasa iba melihat anak-anak kecil yang berkeliaran, entah dimana orang tua mereka. Entah kapan aku akan mempunyai anak seperti itu.

Hari ini aku berencana mengunjungi Riang, gadis manis yang tinggal di gedung kecil berwarna ungu, tempat dimana makanan-makanan lezat berasal. Terkadang aku heran, mengapa mereka memasukannya ke dalam kotak dingin itu. Riang sangatlah cantik, senyumnya manis, dan matanya yang coklat itu sering kali membuatku meleleh. Riang selalu baik padaku, dia biasanya menyajikanku makanan. Bakso ikan, sosis panggang, dan yang paling kusuka yaitu nasi goreng ikan asin. Entah mengapa dia begitu baik padaku, apa karna aku tampan, tidak, aku tak setampan itu, bahkan aku tak setampan Gerang. Pria yang kerap mendapatkan banyak perhatian wanita. Gerang kadang selalu menggoda Riang saat mereka berdua bertemu. Tapi kupikir Riang tak begitu menyukai sikap Gerang terhadapnya. Yang jelas, hari ini adalah hari special bagiku, hari ini aku akan menyatakan perasaan yang telah lama ku pendam kepada Riang.

Sampailah aku di gedung ungu tempat Riang berada, ku lewati pintu kaca besar itu, namun tak sedikit pun kulihat Riang, bahkan di meja kuning melingkar di dekat pintu. Riang sangat suka meja itu, meja yang mengingatkannya dengan cahaya bulat di langit saat siang hari. Aku pun mencoba masuk ke tempat dimana para makanan dibuat, sebut saja surga. Benar saja, Riang terlihat sedang duduk di dekat kotak dingin. Hanya duduk terdiam, bagaikan bunga mawar putih yang tegak lurus tertancap di potnya yang berada di samping tempat tidurku.

Tak ada tumpukan ikan lezat, tak ada bakso ikan, sosis panggan, nasi goreng ikan, bahkan nyanyian malam bulan purnama sekali pun. Percayalah, suaraku ini sangat buruk. Yang ada hanya sepasang tangan dan kaki, dengan sedikiti bumbu percaya diri. Jantungku berdebar kencang, tiap satu langkah kulewati, seratus detupan jantungku berdebar. Semakin mendekat dan semakin dekat, perlahan Riang menatapku, matanya begitu indah, bulat dan indah. Tak kusangka Riang terlihat lebih cantik dengan jarak sedekat ini. Ingin rasanya seperti ini selamanya. Tidak, berhenti berkhayal, aku ingin lebih dari sekedar berada di dekatnya dan hanya bisa menatap paras cantiknya. Baiklah, kunaikkan percaya diri ku, kutarik nafas dalam-dalam, dan kuhembuskan kembali sebanyak tiga kali. Aku tahu ini ide yang buruk, tapi sudahlah, setidaknya ini tak lebih buruk dibandingkan tersedak bola bulu.

Pertama-tama, kusapa dia terlebih dahulu. Suatu hal yang aneh bukan, ketika Riang yang biasanya terlihar riang, hanya terdiam di surga. Apa mungkin dia sedang menunggu seseorang, apa mungkin Gerang kembali mengganggunya, entahlah. Kuberkata dalam hati,

“Riang, ohh Riang, ada apa gerangan?”

Belum sempat kami berdua bercakap-cakap. Tempat sampah besar berwarna hijau berroda yang penuh dengan sisa makanan dan sampah-sampah yang sangat bau tiba-tiba terjatuh sangat keras, hingga isinya berserakan dan mengotori lantai surga.

Terlihat dengan lantang, berdiri dengan tegaknya Gerang. Tubuhnya besar dan kekar, sangat berbeda denganku, yang cukup malas untuk berlari dan mengencangkan otot-ototku. Alis tebal Gerang menukik menutupi sebagian matanya, dahinya mengerut kebawah, tatapanya lurus tajam tepat ke arahku. Mulutnya bergumam tak jelas, lalu menyeringai, membuka sebagian mulutnya agar gigi-giginya yang merapat terlihat olehku.

Gerang bergerak dengan cepat, melangkah panjang dari tempat dia berdiri, dan berhenti di hadapan ku. Bahkan hingga hidung kami berdua hampir bersentuhan. Bergumam di depanku, seolah-olah aku telah menghabiskan semua jatah makan siangnya secara diam-diam. Entah Gerang sudah mulai gila atau apa, namun parasnya benar-benar penuh kebencian terhadapku. Tangan kanannya mengepal dengan kencang, terlihat bagaikan bola bakso ikan yang sering aku makan. Aku terdiam dan gugup, tangannyamengayun dengan kencang. Benar saja, Gerang ingin menghantamku. Layaknya seorang pecundang yang pengecut, aku hanya bisa pasrah dan mengalah menerima hantaman Gerang.

Tak sempat hantaman Gerang mengenaiku. Tubuhku terjatuh, terhempas kesamping, rasanya seperti didorong oleh seikat sapu. Tidak, itu bukan sapu, itu Riang. Dengan keras dan cepat Riang mendorongku. Mungkin dia ingin melindungiku, tentu saja. Seketika aku tersungkur dan terbaring. Namun apa, hataman keras Gerang pun mengenai Riang, tak sekedar hantaman, kuku-kuku kecil nan tajam yang ada dibalik kepalan tangan Gerang pun menyayat pipi manis Riang, pipi yang putih kini berubah merah. Darah mengalir kencang, Riang merintih kesakitan, mata indahnya terhalang bola-bola air mata. Riang pun terkapar tak berdaya, berusaha untuk kembali berdiri di hadapan Gerang.

Aku, yang tengah terkapar akibat hempasan Riang, hanya bisa berdiam diri melihat betapa beraninya Riang yang telah menyelamatkanku dan kini sedang berdiri berhadapan dengan Gerang. Riang memasang raut muka marahnya, menatap Gerang dengan tatapan sinis melebihi tatapan Gerang terhadapku sebelumnya, memunculkan kuku-kuku tajamnya yang selama ini tak pernah kulihat, menghempaskannya tepat di wajah Gerang. Gerang terlihat tak berdaya dan pasrah, sebagaimana pasrahnya aku saat dia ingin menghantamku. Riang memalingkan mukanya dari Gerang, mengibaskan buntut halus panjangnya ke muka Gerang, sembari berkata,

“Gerang, kita putus.”  

Monday, March 30, 2015

"MODO SI KOMODO"

Modo Concept Art

Modo, itulah kata yang tersirat ketika melihat wujud hewan luar biasa yang satu ini. Entah sudah ada yang menggunakannya atau belum, yang jelas nama tokoh komodo yang lumrah di dengar masyarakat Indonesia adalah  Si Komo, tokoh komodo di era 80'an.

Minggu 29 Maret 2015, pukul 22:00 tepat dimana teman lamaku menghubungiku lewat Facebook. Secara lugas mengajakku ikut serta dalam lomba membuat stiker di Line. Bara namanya, berhubung dia tak terlalu mahir dalam gambar-menggambar, tak heran dia menghubungiku. Bak simbiosis mutualisme, aku yang saat ini tak memegang laptop sebagai media desain pun merasa terbantu. Melihat nominal hadiah yang menggiurkan, aku pun dengan lugas pula menerima tawaran tersebut.

Tak lama kemudian, Bara memberiku beberapa konsep, tanpa pikir panjang dan tidak terlalu rumit. Terlahirlah ide membuat tokoh yang sangat Indonesia. Viola!!, Komodo.

FLASH FICTION

Flash Fiction Oleh Aliza Kusuma 

"LUKISAN MAUT"
Lomba melukis diadakan esok hari. Sebagai pelukis aku pun turut ikut serta. Kulukislah lukisan piramida mata satu. Tak tahu menahu, seseorang menembakku.


"AKU DAN ANGEL"
Aku dan Angel sudah dua bulan berkenalan. Kami memutuskan untuk menikah. Sehari setelah menikah, kuceraikan Angel. Dia tak pernah mau membuka celana dalamnya.


"LIBURANKU"
Liburan sekolah telah tiba. Teman-teman mengajakku wisata ke Dufan. Mereka memaksaku naik wahana Roaller Coaster, namun ku tolak. Esok harinya, aku bersedih melihat nama mereka terpapang di koran

Thursday, March 19, 2015

CERPEN (ii) “PULANG”



“PULANG”
Oleh: Aliza Kusuma

Jum’at, tepat pukul 09:00 AM. Cuaca begitu terik. Bahkan topi pet mahal bermerek Dolce & Gabbana buatan Paris ini pun tak mampu menangkal panas mentari. Sesegera mungkin aku masuk, melewati pintu kaca yang baru saja dibersihkan petugas kebersihan Bank. Hela nafasku, melihat antrean panjang bak ular tangga dengan pembatas merahnya.  Tak heran, Bank ini sudah buka sejak pukul 07:00 AM tadi pagi. 

Setelah setengah jam aku mengantre. Akhirnya tiba giliranku. Langkah tegapku menuju meja Teller. Tatapku tak tertahankan melihat pegawai bank nan cantik jelita, hidungnya tipis, bibirnya manis dengan kilauan lipstik merah. Tepatnya, itu merah marun. Rambutnya yang lurus, terikat kencang ke belakang bak seorang Gheisa. Warnanya hitam, hitam kebiruan. Tidak, itu hitam keunguan. Perawakannya tinggi semampai, entah dia ini mantan model atau bukan? Aku langsungkan niatku menarik tabungan. Yah, 1 Miliyar Rupiah. Hari ini aku sudah berjanji untuk membayar mobil Lamborgini yang sudah lama ku idam-idamkan itu. Suaranya terdengar miris, begitu kecil. Mesin penghitung uang bergerak cepat di arah pukul 11:00. Tak sengaja kulihat dadanya yang besar di balik seragam orangenya. Terpasang papan nama bertuliskan “Maria”. Maria Kusuma. 

Sudahlah terhitung sejumlah 1 Miliyar Rupiah. Ku tarik ransel besar dan biru Consina-ku dari belakang punggungku. Tiba-tiba seorang wanita paruh baya di belakangku berceloteh. Berteriak agak keras seperti komandan ABRI yang sedang melatih para tentaranya. Namun melengking. Entah mungkin kesabarannya terkuras saat lamanya aku bertransaksi. Tubuhnya sangat gemuk. Hingga kalung permata hijaunya hampir tak terlihat. Tertutup onggokan daging leher dan dadanya. 

Yap, 1 Miliyar telah ku rapihkan. Serapih ransel besar yang berisikan uang. Aku pun selesai dengan pemandangan bidadari Asia tadi. Ku balikan badan ke arah pintu keluar. Pintu kaca yang bersih dan berkilau tadi. Semakin jauh dari meja Teller. Semakin dekat dengan pintu keluar. Hampir dekat. Ku pelankan langkah, sembari sedikit menoleh ke belakang dengan tempo yang sedikit pula. Mungkin terakhir kalinya ku lihat mbak Maria yang satu itu. Sebagaimana tugasnya, ku lihat dia sedang tertunduk, terpaku ke mesin penghitung uang. Sedikit terhalang dengan lebarnya pundak wanita gemuk paruh  baya tadi. Tak hanya itu. Kepala bulatnya menengok ke arahku bagaikan roda depan mobil yang tengah belok ke kanan. Matanya menyipit, sembari menjulurkan lidah lengketnya tepat di wajah ku.

Teringat kembali bahwa ada sejumlah Miliyar di ranselku. Rasa was-was melihat orang berlalu-lalang di dalam Bank. Ku coba tuk tidak terlihat tegang dan resah seperti orang yang baru saja menarik uang 1 Miliyar Rupiah. Belum sampai di ujung pintu kaca. Seorang pria berkulit kecoklatan dengan tubuhnya yang kekar tiba-tiba menghadangku. Menatapku sejenak dengan tatapan sinis dan tiba-tiba tersenyum manis. Seolah-olah dia baru saja melihat neneknya sedang berenang menggunakan bikini dan celana dalam yang bergambarkan Donald Bebek. Dari seragamnya, tentu dia seorang satpam. Satpam Bank ini. Yang hanya ingin menyapaku selayaknya satpam-satpam lain yang bekerja di Bank. Tiba-tiba terdengar suara teriakan wanita dari arah belakang. Ya, aku ingat suara itu. Suara wanita gemuk tadi. Ku tolehkan badanku ke belakang. Terlihat semua orang tengah tertunduk. Tertunduk layaknya kumpulan bebek yang akan diberi pakan. Kecuali satu orang. Satu wanita bertubuh langsing dan tinggi. Wanita dengan rambut hitamnya yang tergurai lurus dan panjang. Berdiri tepat di atas meja Teller, sembari memegang senapan laras panjang bertuliskan AK47.

Mulutku tercengang. Terdiam sejenak. Panik, heran, menakjubkan. Ya, dia adalah mbak Maria. Bibir manis merahnya takkan pernah ku lupakan. Ya, dia memang mbak Maria. Maria Kusuma. Namun dengan seragam yang berbeda. Pakaian serba hitamnya mengingatkan ku akan tokoh Black Widow yang diperankan Scarlett Johanson. Aku semakin tercengang saat dia menatapku dengan pakaian seperti itu. Tatapannya lurus tajam ke arahku. Sedikit tersenyum centil dan mengankat senapannya dan  BANG!! Aku pun dengan lincah segera menghindar. Seolah-olah sedang melakukan olah raga scot jump. Kubantingkan diriku ke lantai. Berdiri kembali dan segera lari. Tidak, aku tak sempat berlari. Kaki pria kekar dengan seragam satpam tadi telah menyandungku dengan sengaja dan BRUKK!!

Cahaya putih menyilaukan. Entah ini mimpi atau bukan. Aku terbaring lemas. Entah di rumah sakit atau bukan. Namun kasurnya terasa kasar. Ya, bagaikan beras, atau mungkin pasir. Syukurlah, aku pikir kejadian tadi telah membunuhku. Kupejamkan saja mataku. Namun sinar putih tadi tetap dapat menembus kulit kelopak mataku. Tiba-tiba terdengar suara. Suara pria dengan nada yang berat. Suara yang mengingatkanku pada temanku Zajran. Berkata dengan lantang 
“Siapa Tuhanmu?”