Pages

Monday, April 6, 2015

DONGENG (i) "CINDERELLA" (ADAPTASI)



"CINDERELLA" (Adaptasi)
Oleh Aliza Kusuma



Prolog

Suatu hari, di sebuah desa yang kecil, tak jauh dari kerajaan, tinggallah sebuah keluarga yang sejahtera. Keluarga ini sangatlah kaya. Seorang suami yang baik dan bijaksana, dan istri yang cantik jelita, dan mereka berdua mempunyai seorang anak perempuan lucu dan cantik seperti ibunya. Namanya Cinderella. Cinderella adalah anak yang baik, patuh, dan suka menolong. Bahkan tikus yang tengah terjebak dalam perangkap pun ia tolong, itu lah Cinderella.

Cinderella kini beranjak dewasa, usianya saat ini adalah delapan belas tahun. Cantiknya semakin mirip, bahkan melebihi ibunya. Namun di hari bahagia saat ulang tahunnya, Cinderellah harus kehilangan ibunya tercinta, dan kini Cinderella hanya tinggal bersama ayahnya.

Tak jauh dari rumah Cinderella, tinggallah seorang janda tua nan cantik, dengan dua anak perempuannya. Mereka amat baik kepada keluarga Cinderella. Hingga pada akhirnya ayah Cinderella menikahi janda tersebut, karna tak tega melihat Cinderella yang sedih atas kematian ibunya.

Saat ini Cinderella mempunyai ibu dan dua adik tiri.

Ayah Cinderella adalah seorang pengembara, dan saat iru dia harus perggi ke suatu tempat nan jauh, bahkan harus menyebrangi pulau dengan sebuah kapal, sedangkan Cinderella tinggal di rumah bersama ibu dan dua adik tirinya. Hingga suatu hari, seorang ajudan mengirimkan surat atas kematian ayahnya kepada Cinderella. Kapal yang dinaiki ayah Cinderella tenggelam di laut karena badai.

Setelah kabar kematian ayah Cinderella. Semakin terlihat sifat asli ibu dan dua adik tiri Cinderella, mereka memperlakukan Cinderella layaknya seorang budak. Cinderella sangatlah tersiksa atas perlakuan ibu dan dua adik tirinya.

Suatu hari, anggota kerajaan mengumumkan ke seluruh penjuru desa, bahwa akan diadakan pesta dansa di istana. Sang raja ingin mencari mempelai wanita yang cocok untuk anaknya - Sang pangeran di pesta dansa tersebut.Mendengar kabar tersebut, ibu dan dua adik tiri Cinderella sangatlah tertarik, berharap salah satunya bisa menjadi mempelai wanita sang pangeran, tak terkecuali Cinderella. Namun ibu tirinyamelarangnya untuk bisa ikut dalam pesta dansa. Malam pesta dansa telah tiba, ibu dan dua adik tiri Cinderella berangkat ke istana, sedangkan Cinderella hanya bisa menangis karna tidak diperbolehkan ikut ke pesta dansa.

Di saat kesedihan melanda Cinderella, datanglah ibu peri, dengan tongkat ajaibnya. Dia mengatakan bahwa Cinderella akan tetap bisahadir di pesta dansa. Cinderella terlihat senang. Dibuatkanlah sebuah kereta kencana yang indah, beserta kusirnya untu Cinderella. Tak hanya itu, baju kusam Cinderella pun diubahnya menjadi gaun cantik yang berkilau, dan satu hal lagi, ibu peri pun memberikan Cinderella sepasang sepatu kaca indah agar dia terlihat sempurna di pesta dansa. Namun ibu peri mengatakan bahwa mantranya tak akan bertahan lama hingga suara lonceng tengah malam berbunyi.

Setibanya Cinderella di istana dengan kereta kencana buatan ibu peri, Cinderella pun memasuki istana. Semua mata tertuju padanya, seolah olah dia adalah putri kerajaan. Bahkan sang pangeran pun terpana melihatnya, dan kemudian mengajak Cinderella untuk berdasa bersamanya.




Di tengah indahnya aroma pesta dansa, dimana Cinderella terpana dengan ketampanan sang pangeran yang mengajaknya berdansa. Tiba-tiba, seisi istana bergetar kencang. Berhenti sejenak kemudian bergetar lagi.

 “Apa yang barusan tadi gempa bumi?” Teriak salah satu pengawal.

“Hadirin sekalian, harap tenang, ini hanya gempa bumi sesaat, mohon agar segera meninggalkan istana demi keamanan anda sekalian, Pintu keluarnya ada di sebelah barat istana.”

Pesta dansa yang indah, seketika itu juga menjadi kacau balau. Para pengunjung istana pun berhamburan keluar istana.

“Pangeran, sebenarnya apa itu tadi?” Ucap Cinderella.

“Tenanglah, itu hanya gempa bumi.”

“Tapi”

“Sudah, sudah, tidak apa-apa.” Kata pangeran di luar istana.

Tiba-tiba terdengar suara pepohonan yang tumbang dari arah utara istana. Suaranya begitu bising dan bahkan semakin mendekat. Terlihat burung-burung yang berterbangan dari balik pepohonan yang tumbang, dan kemudian muncul sesosok bayangan hitam yang sangat besar dia atas pepohonan tersebut.

“Apa itu, bayangan hitam yang besar itu?” Salah satu pengawal mulai ketakutan.

“Tenanglah kawan, itu hanya bayangan awan, mungkin akan terjadi hujan malam ini.”

Dengan adanya gempa bumi dan keributan dibalik pepohonan yang disertai bayangan hitam tadi, benar-benar mengacaukan pesta dansa sang raja. Istana yang tadi dipenuhi para tamu yang berdansa kini menjadi hening, semua pengunjung dipersilahkan untuk kembali ke rumahnya masing-masing, kecuali Cinderella.

“Semuanya! Cepat mausk ke istana!” Teriak salah satu pengawal.

“Cepat, kalian lindungi sang raja!”

“Pangeran, apa yang sebanarnya terjadi?”

“Aku … aku juga tak tahu.”

“Pengawal!”

“Iya tuan.”

“Ada apa sebenarnya ini?”

“Tuan, dan nyonya sebaiknya segera masuk ke dalam istanam, sekarang!” Kata pengawal yang sedang panic dan gugup.

“Tu … tunggu dulu, ada apa ini?”

Getaran  di istana semakin keras, namun para pengawal yang berjaga di bagian gerbang istana berhamburan lari, masuk ke dalam istana.

“Pengawal!, ada apa ...”

Pertanyaan pangeran terhenti seketika, ketika tatapannya menghadap ke langit dan melihat sesosok raksasa hijau yang mengerikan dengan perutnya yang buncit. Raksasa tersebut meraung dengan nada marah.

“Dimaanaa kaauu! Rrrgggh”

Sang pangeran segera menggenggam erat-erat tangan Cinderella dan menariknya berlari ke dalam istana.

“Cepat, kita harus berlindung!”

“Ohh, ohh baik pangeran.”

Pangeran dengan kencangnya berlari membawa Cinderella ke dalam istana. Namun tiba-tiba sang raksasa menghentakkan salah satu kakiknya dengan keras, sehingga mereka berdua terjatuh.

“Heey kaauu, wanita berambut emaas!”

“Siapa yang dia maksud?” Ucap pangeran.

“Berambut emas, apa mungkin itu aku?” Kata Cinderella.

“Kau wanita berambut emas! Mau kemana kaauu?”

“Larilah, cepat!” Kata pangeran.

“Tapi pangeran!”

“Beraninya kau lari darikuu!”

Cinderella pun tak tahu mengapa raksasa tadi mengincarnya. Namun Cinderella tak ingin lari, karena ingin terus bisa bersama pangeran.

“DING … DONG! DING … DONG!”

Bel tengah malam pun berbunyi.

Bukan ancaman raksasa yang Cinderella takuti, melainkan suara lonceng tengah malam tersebut. Cinderella teringat kata-kata ibu peri bahwa mantranya akan sirna saat tengah malam. Cinderella pun segera berlari menjauh dari istana, saking kencangnya, hingga salah satu sepatu kacanya terlepas dan terpaksa ia tinggalkan.

Sementara sang pangeran menghunuskan pedangnya ke arah raksasa, kemudian menancapkannya tepat di kaki kanan sang raksasa. Lalu kemudian sang pangerang berlari menyusul Cinderella.

Sang raksasa pun mencabut pedang yang ditancapkan pangeran, dan kemudian mengejar Cinderella.

“Dasaar wanita sialan! Kau tak bisa kabur darikuu! Rrrgggh!”

Cinderella benar-benar berlari jauh dari istana, hingga sang pangeran tak sempat menyusulnya.Namun hanya ada satu sepatu kaca yang pangeran ingat bahwa itu milik Cinderella.

Sang raksasa berjalan dengan langkahnya yang berat ke arah Cinderella kabur. Telapak kakinya yang lebar dan penuh dengan tanah, melayang di atas kepala yang pangeran dan melewatinya begitu saja.

“Sebenarnya siapa gadis cantik itu?”

Cinderella masih berlari kencang, walau dengan bertelanjang kaki. Sepatu kaca yang tersisa entah tertinggal dimana. Gaun dan kereta kencananya, kini telah berubah kembali menjadi barang-barang kusam tak berguna.

Getaran langkah sang raksasa masih terasa saat Cinderella berlari ke rumahnya. Belum sempat Cinderella tiba di depan pintu rumahnya. Kaki sang raksasa tadi tiba-tiba meremukkan bangunan tersebut.

“Mau lari keemaana kaauu? Whahahaha.”

Kaki sang raksasa terlihat berada di atas rumah Cinderella, yang kini rata dengan tanah. Tak hanya itu, ibu dan dua adik tirinya pun terlihat sudah terkapar di balik reruntuhan rumahnya.

“Sebenarnya, apa maumu?”

Melihat rumahnya yang hancur, Cinderella pun berhenti berlari dan memberanikan diri untuk berbicara dengan sang raksasa.

“Tidakkah kau sadar! Kau sudah menghancurkan pesta dansaku, dan lihat, sekarang kau hancurkan pula rumah, satu-satunya peninggalan ayahku! Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?”

“Apa kau bilang tadi? Ayah? Dia lebih pantas disebut penipu, dibandingkan disebut seorang ayah!”

“Penipu? Apa maksudmu?”

“Oh jadi dia tak member tahumu, rambut emas?”

Cinderella hanya bisa terdiam kebingungan atas kata-kata sang raksasa.

“Itu dulu sekali, saat kau belum ada! Aku adalah raksasa yang sangat makmur, sangat kuat, kekuatanku tak ada tandingannya. Hingga sang penipu …”

“Maksudmu ayahku?”

“Penipu!, dia datang lalu kemudian merampas satu-satunya harta berharga bagiku, sumber kekuatanku.”

“Harta apa? Ayahku bukan seorang pencuri.”

“Diam! Dia bilang dia akan membuat kekuatanku semakin besar, jika aku mengabulkan apa yang dia inginkan. Saat itu dia datang dan memohon kepadaku untuk diberikan seorang anak, karena istrinya yang mandul. Maka aku berikan kepadanya satu-satunya harta milikku. Sumber kekuatanku. Biji mentimun ajaib. Aku bilang padanya agar dia menanamnya, maka dia akan mempunyai seorang anak, namun dengan syarat, anak itu kelak akan menjadi milikku, sebagai pengganti kekuatanku.”

“Anak? Biji mentimun ajaib? Tidak … ini tidak mungkin!”

“Dan kau tahu, si penipu tak pernah kembali lagi padaku, sebagaimana yang ia janjikan saat itu.”

Mengetahui bahwa dia adalah anak di balik cerita sang raksasa. Cinderella segera lari menghindar dari amukan sang raksasa, ditemani perasaan bersedih bahwa ternyata dia adalah anak dari sebuah timun ajaib.

“Dasar anak penipu!”

Larinya Cinderella untuk kedua kalinya, membuat sang raksasa kian marah. Dia pun kembali mengejar Cinderella. Kemanapun Cinderella pergi, aroma mentimunnya takkan pernah bisa ia lupakan.

Cinderella berlari kea rah hutan, dimana banyak pepohonan, berharap agar pohon-pohon tersebut bisa menghambat sang raksasa.

Di saat Cinderella tengah bertarung dengan gelapnya malam di tengah hutan dan terus berlari menghindar dari kejaran sang raksasa. Tiba-tiba datanglah ibu peri, melayang dengan sayap-sayap tipisnya, mengiringi Cinderella yang masih berlari.

“Cinderella sayang, ibu peri tahu ini bukan waktu yang tepat untuk ngobrol, tapi ambillah ini nak, cepat, maaf ibu peri tidak bisa berlama-lama lagi, selamat tinggal!”

Tiga buah kantung kecil diberikan kepada Cinderella oleh ibu peri yang dalam sekejap langsung menghilang begitu saja.

Tepat setelah ibu peri menghilang, sang raksasa benar-benar sangat dekat dengan Cinderella, tangannya yang kokoh dan lebar, menghampiri Cinderella. Tak tahu apa yang harus dia lakukan, Cinderella pun melemparkan isi dari salah satu kantung kecil tadi ke tangan sang raksasa. Namun meleset, dan terjatuh di tanah. Ternyata sebuat bibit-bibit kecil, bibit-bibit tersebut tiba-tiba meresap ke dalam tanah dan dengan sekejap tanah tersebut menyemburkan air yang sangat banyak, semburannya sangat deras sederas air sungai, hingga sang raksasa terjungkir ke belakang.

“Ini berhasil, terimakasih ibu peri!” Kata Cinderella yang mulai terlihat senang.

Cinderella kemudian berlari lagi, selagi sang raksasa terjatuh. Namun dengan segera, sang raksasa bangkit dan mengejar Cinderella.

Akibat semburan air yang banyak tadi, tanah di sekitar sang raksasa menjadi sangat becek, dan itu menyulitkannya untuk melangkahkan kakinya.

“Dasar kau, wanita licik!”

Sang raksasa terus mengejar Cinderella, dan untuk kedua kalinya sang raksasa sudah sangat dekat dengan Cinderella.

“Kali ini takkan kubiarkan kau mengerjaiku lagi!”

Cinderella kembali melemparkan isi kantung lainnya ke arah sang raksasa. Namun kali ini sang raksasa menangkap isi kantung tersebut agar tidak terjatuh di tanah. Ternyata sebuah cabai. Genggaman sang raksasa begitu kuat sehingga menghancurkan cabai-cabai tersebut. Tiba-tiba muncullah akar-akar berduri dari balik genggaman tangan sang raksasa. Akar-akar berduri tersebut menyebar hingga ke tubuh sang raksasa, sehingga membuat kulitnya terluka dan kemudian terjatuh untuk kedua kalinya.

Kini Cinderella hanya mempunyai satu kantung lagi. Namun terlihat bahwa sang raksasa masih begitu kuat untuk menangkap Cinderella.

Cinderella berhenti berlari, dia terjebak diantara tebing-tebing tinggi yang mengelilinginya.  Sang raksasa semakin mendekat. Cinderella melihat isi kantung yang terakhir, ternyata sebuat kacang kedelai.

Ketika sang raksasa sudah sangat dekat dengannya, Cinderella pun melemparkan kacang-kacang tersebut ke tanah, tepat di ujung jari-jari kaki sang raksasa.

“Sekarang tak ada jalan keluar lagi untukmu rambut emas! Hahahaha!”

Tiba-tiba muncul genangan lumpur dari balik kaki sang raksasa, genangannya semakin lebar dan dalam, bahkan Cinderella pun tak bisa menghindar dari genangan tersebut. Tak ada jalan keluar lain selain memanjat tebing yang tinggi itu.

“Baiklah  rambut emas, aku rasa kita akan mati bersama disini!”

Genangan lumpur tersebut semakin lebar dan dalam, hingga setengah badan sang raksasa pun tenggelam di dalamnya.

“Ohh tidak, bagaimana ini?”

Tiba-tiba terdengar suara pria dari atas tebing.

“Hey gadis cantik, naik lah!”

Seuntas tali yang panjang menjulur dari atas tebing, Cinderella pun memanjat tebing dengan tali tersebut.

“Syukurlah kau selamat!”

Cinderella benar-benar terselamatkan dengan bantuan pria tadi, sedangkan sang raksasa telah tenggelam dan lenyap ke dalam lumpur tadi.

“Kau, kau seorang pangeran!” Kata Cinderella mengenali seragam pria tersebut.

“Tentu saja, gadis rambut emas!”

“Da … dari mana kau tahu? Aku sudah tak lagi memakai gaun itu?”

“Bagaimana aku tak tahu, seorang wanita cantik yang sedang dikejar-kejar oleh raksasa.”

Pangerang mengambil sesuatu dari kantung yang ada di kudanya. Sepasang sepatu kaca yang berkilau, kemudian menundukkan diri, memakaikan sepatu tersebut kepada Cinderella dan mereka berdua pulang bersama ke istana.

Keesokan harinya, sang pangeran pun melamar Cinderella, dan mereka kini hidup bahagia selamanya.



-Tamat-






No comments:

Post a Comment