"CINDERELLA" (Adaptasi)
Oleh Aliza Kusuma
Prolog
Suatu hari, di sebuah desa yang
kecil, tak jauh dari kerajaan, tinggallah sebuah keluarga yang sejahtera.
Keluarga ini sangatlah kaya. Seorang suami yang baik dan bijaksana, dan istri
yang cantik jelita, dan mereka berdua mempunyai seorang anak perempuan lucu dan
cantik seperti ibunya. Namanya Cinderella. Cinderella adalah anak yang baik,
patuh, dan suka menolong. Bahkan tikus yang tengah terjebak dalam perangkap pun
ia tolong, itu lah Cinderella.
Cinderella kini beranjak dewasa,
usianya saat ini adalah delapan belas tahun. Cantiknya semakin mirip, bahkan
melebihi ibunya. Namun di hari bahagia saat ulang tahunnya, Cinderellah harus
kehilangan ibunya tercinta, dan kini Cinderella hanya tinggal bersama ayahnya.
Tak jauh dari rumah Cinderella,
tinggallah seorang janda tua nan cantik, dengan dua anak perempuannya. Mereka
amat baik kepada keluarga Cinderella. Hingga pada akhirnya ayah Cinderella
menikahi janda tersebut, karna tak tega melihat Cinderella yang sedih atas
kematian ibunya.
Saat ini Cinderella mempunyai ibu
dan dua adik tiri.
Ayah Cinderella adalah seorang
pengembara, dan saat iru dia harus perggi ke suatu tempat nan jauh, bahkan
harus menyebrangi pulau dengan sebuah kapal, sedangkan Cinderella tinggal di
rumah bersama ibu dan dua adik tirinya. Hingga suatu hari, seorang ajudan
mengirimkan surat atas kematian ayahnya kepada Cinderella. Kapal yang dinaiki
ayah Cinderella tenggelam di laut karena badai.
Setelah kabar kematian ayah
Cinderella. Semakin terlihat sifat asli ibu dan dua adik tiri Cinderella,
mereka memperlakukan Cinderella layaknya seorang budak. Cinderella sangatlah
tersiksa atas perlakuan ibu dan dua adik tirinya.
Suatu hari, anggota kerajaan
mengumumkan ke seluruh penjuru desa, bahwa akan diadakan pesta dansa di istana.
Sang raja ingin mencari mempelai wanita yang cocok untuk anaknya - Sang
pangeran di pesta dansa tersebut.Mendengar kabar tersebut, ibu dan dua adik
tiri Cinderella sangatlah tertarik, berharap salah satunya bisa menjadi
mempelai wanita sang pangeran, tak terkecuali Cinderella. Namun ibu
tirinyamelarangnya untuk bisa ikut dalam pesta dansa. Malam pesta dansa telah
tiba, ibu dan dua adik tiri Cinderella berangkat ke istana, sedangkan
Cinderella hanya bisa menangis karna tidak diperbolehkan ikut ke pesta dansa.
Di saat kesedihan melanda
Cinderella, datanglah ibu peri, dengan tongkat ajaibnya. Dia mengatakan bahwa
Cinderella akan tetap bisahadir di pesta dansa. Cinderella terlihat senang.
Dibuatkanlah sebuah kereta kencana yang indah, beserta kusirnya untu
Cinderella. Tak hanya itu, baju kusam Cinderella pun diubahnya menjadi gaun
cantik yang berkilau, dan satu hal lagi, ibu peri pun memberikan Cinderella
sepasang sepatu kaca indah agar dia terlihat sempurna di pesta dansa. Namun ibu
peri mengatakan bahwa mantranya tak akan bertahan lama hingga suara lonceng
tengah malam berbunyi.
Setibanya
Cinderella di istana dengan kereta kencana buatan ibu peri, Cinderella pun
memasuki istana. Semua mata tertuju padanya, seolah olah dia adalah putri
kerajaan. Bahkan sang pangeran pun terpana melihatnya, dan kemudian mengajak
Cinderella untuk berdasa bersamanya.
Di tengah indahnya aroma pesta
dansa, dimana Cinderella terpana dengan ketampanan sang pangeran yang
mengajaknya berdansa. Tiba-tiba, seisi istana bergetar kencang. Berhenti sejenak
kemudian bergetar lagi.
“Apa yang barusan tadi gempa bumi?” Teriak
salah satu pengawal.
“Hadirin sekalian, harap tenang,
ini hanya gempa bumi sesaat, mohon agar segera meninggalkan istana demi
keamanan anda sekalian, Pintu keluarnya ada di sebelah barat istana.”
Pesta dansa yang indah, seketika
itu juga menjadi kacau balau. Para pengunjung istana pun berhamburan keluar
istana.
“Pangeran, sebenarnya apa itu
tadi?” Ucap Cinderella.
“Tenanglah, itu hanya gempa bumi.”
“Tapi”
“Sudah, sudah, tidak apa-apa.” Kata
pangeran di luar istana.
Tiba-tiba terdengar suara pepohonan
yang tumbang dari arah utara istana. Suaranya begitu bising dan bahkan semakin
mendekat. Terlihat burung-burung yang berterbangan dari balik pepohonan yang
tumbang, dan kemudian muncul sesosok bayangan hitam yang sangat besar dia atas
pepohonan tersebut.
“Apa itu, bayangan hitam yang besar
itu?” Salah satu pengawal mulai ketakutan.
“Tenanglah kawan, itu hanya
bayangan awan, mungkin akan terjadi hujan malam ini.”
Dengan adanya gempa bumi dan keributan
dibalik pepohonan yang disertai bayangan hitam tadi, benar-benar mengacaukan
pesta dansa sang raja. Istana yang tadi dipenuhi para tamu yang berdansa kini
menjadi hening, semua pengunjung dipersilahkan untuk kembali ke rumahnya
masing-masing, kecuali Cinderella.
“Semuanya! Cepat mausk ke istana!”
Teriak salah satu pengawal.
“Cepat, kalian lindungi sang raja!”
“Pangeran, apa yang sebanarnya
terjadi?”
“Aku … aku juga tak tahu.”
“Pengawal!”
“Iya tuan.”
“Ada apa sebenarnya ini?”
“Tuan, dan nyonya sebaiknya segera
masuk ke dalam istanam, sekarang!” Kata pengawal yang sedang panic dan gugup.
“Tu … tunggu dulu, ada apa ini?”
Getaran di istana semakin keras, namun para pengawal
yang berjaga di bagian gerbang istana berhamburan lari, masuk ke dalam istana.
“Pengawal!, ada apa ...”
Pertanyaan pangeran terhenti
seketika, ketika tatapannya menghadap ke langit dan melihat sesosok raksasa
hijau yang mengerikan dengan perutnya yang buncit. Raksasa tersebut meraung
dengan nada marah.
“Dimaanaa kaauu! Rrrgggh”
Sang pangeran segera menggenggam
erat-erat tangan Cinderella dan menariknya berlari ke dalam istana.
“Cepat, kita harus berlindung!”
“Ohh, ohh baik pangeran.”
Pangeran dengan kencangnya berlari
membawa Cinderella ke dalam istana. Namun tiba-tiba sang raksasa menghentakkan
salah satu kakiknya dengan keras, sehingga mereka berdua terjatuh.
“Heey kaauu, wanita berambut
emaas!”
“Siapa yang dia maksud?” Ucap
pangeran.
“Berambut emas, apa mungkin itu
aku?” Kata Cinderella.
“Kau wanita berambut emas! Mau
kemana kaauu?”
“Larilah, cepat!” Kata pangeran.
“Tapi pangeran!”
“Beraninya kau lari darikuu!”
Cinderella pun tak tahu mengapa
raksasa tadi mengincarnya. Namun Cinderella tak ingin lari, karena ingin terus
bisa bersama pangeran.
“DING … DONG! DING … DONG!”
Bel tengah malam pun berbunyi.
Bukan ancaman raksasa yang
Cinderella takuti, melainkan suara lonceng tengah malam tersebut. Cinderella
teringat kata-kata ibu peri bahwa mantranya akan sirna saat tengah malam.
Cinderella pun segera berlari menjauh dari istana, saking kencangnya, hingga
salah satu sepatu kacanya terlepas dan terpaksa ia tinggalkan.
Sementara sang pangeran
menghunuskan pedangnya ke arah raksasa, kemudian menancapkannya tepat di kaki
kanan sang raksasa. Lalu kemudian sang pangerang berlari menyusul Cinderella.
Sang raksasa pun mencabut pedang
yang ditancapkan pangeran, dan kemudian mengejar Cinderella.
“Dasaar wanita sialan! Kau tak bisa
kabur darikuu! Rrrgggh!”
Cinderella benar-benar berlari jauh
dari istana, hingga sang pangeran tak sempat menyusulnya.Namun hanya ada satu
sepatu kaca yang pangeran ingat bahwa itu milik Cinderella.
Sang raksasa berjalan dengan
langkahnya yang berat ke arah Cinderella kabur. Telapak kakinya yang lebar dan
penuh dengan tanah, melayang di atas kepala yang pangeran dan melewatinya
begitu saja.
“Sebenarnya siapa gadis cantik
itu?”
Cinderella masih berlari kencang,
walau dengan bertelanjang kaki. Sepatu kaca yang tersisa entah tertinggal
dimana. Gaun dan kereta kencananya, kini telah berubah kembali menjadi
barang-barang kusam tak berguna.
Getaran langkah sang raksasa masih
terasa saat Cinderella berlari ke rumahnya. Belum sempat Cinderella tiba di
depan pintu rumahnya. Kaki sang raksasa tadi tiba-tiba meremukkan bangunan
tersebut.
“Mau lari keemaana kaauu?
Whahahaha.”
Kaki sang raksasa terlihat berada
di atas rumah Cinderella, yang kini rata dengan tanah. Tak hanya itu, ibu dan
dua adik tirinya pun terlihat sudah terkapar di balik reruntuhan rumahnya.
“Sebenarnya, apa maumu?”
Melihat rumahnya yang hancur,
Cinderella pun berhenti berlari dan memberanikan diri untuk berbicara dengan
sang raksasa.
“Tidakkah kau sadar! Kau sudah
menghancurkan pesta dansaku, dan lihat, sekarang kau hancurkan pula rumah,
satu-satunya peninggalan ayahku! Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?”
“Apa kau bilang tadi? Ayah? Dia
lebih pantas disebut penipu, dibandingkan disebut seorang ayah!”
“Penipu? Apa maksudmu?”
“Oh jadi dia tak member tahumu,
rambut emas?”
Cinderella hanya bisa terdiam
kebingungan atas kata-kata sang raksasa.
“Itu dulu sekali, saat kau belum
ada! Aku adalah raksasa yang sangat makmur, sangat kuat, kekuatanku tak ada
tandingannya. Hingga sang penipu …”
“Maksudmu ayahku?”
“Penipu!, dia datang lalu kemudian
merampas satu-satunya harta berharga bagiku, sumber kekuatanku.”
“Harta apa? Ayahku bukan seorang
pencuri.”
“Diam! Dia bilang dia akan membuat
kekuatanku semakin besar, jika aku mengabulkan apa yang dia inginkan. Saat itu
dia datang dan memohon kepadaku untuk diberikan seorang anak, karena istrinya
yang mandul. Maka aku berikan kepadanya satu-satunya harta milikku. Sumber
kekuatanku. Biji mentimun ajaib. Aku bilang padanya agar dia menanamnya, maka
dia akan mempunyai seorang anak, namun dengan syarat, anak itu kelak akan
menjadi milikku, sebagai pengganti kekuatanku.”
“Anak? Biji mentimun ajaib? Tidak …
ini tidak mungkin!”
“Dan kau tahu, si penipu tak pernah
kembali lagi padaku, sebagaimana yang ia janjikan saat itu.”
Mengetahui bahwa dia adalah anak di
balik cerita sang raksasa. Cinderella segera lari menghindar dari amukan sang
raksasa, ditemani perasaan bersedih bahwa ternyata dia adalah anak dari sebuah
timun ajaib.
“Dasar anak penipu!”
Larinya Cinderella untuk kedua
kalinya, membuat sang raksasa kian marah. Dia pun kembali mengejar Cinderella.
Kemanapun Cinderella pergi, aroma mentimunnya takkan pernah bisa ia lupakan.
Cinderella berlari kea rah hutan,
dimana banyak pepohonan, berharap agar pohon-pohon tersebut bisa menghambat
sang raksasa.
Di saat Cinderella tengah bertarung
dengan gelapnya malam di tengah hutan dan terus berlari menghindar dari kejaran
sang raksasa. Tiba-tiba datanglah ibu peri, melayang dengan sayap-sayap
tipisnya, mengiringi Cinderella yang masih berlari.
“Cinderella sayang, ibu peri tahu
ini bukan waktu yang tepat untuk ngobrol, tapi ambillah ini nak, cepat, maaf
ibu peri tidak bisa berlama-lama lagi, selamat tinggal!”
Tiga buah kantung kecil diberikan
kepada Cinderella oleh ibu peri yang dalam sekejap langsung menghilang begitu
saja.
Tepat setelah ibu peri menghilang,
sang raksasa benar-benar sangat dekat dengan Cinderella, tangannya yang kokoh
dan lebar, menghampiri Cinderella. Tak tahu apa yang harus dia lakukan,
Cinderella pun melemparkan isi dari salah satu kantung kecil tadi ke tangan
sang raksasa. Namun meleset, dan terjatuh di tanah. Ternyata sebuat bibit-bibit
kecil, bibit-bibit tersebut tiba-tiba meresap ke dalam tanah dan dengan sekejap
tanah tersebut menyemburkan air yang sangat banyak, semburannya sangat deras
sederas air sungai, hingga sang raksasa terjungkir ke belakang.
“Ini berhasil, terimakasih ibu
peri!” Kata Cinderella yang mulai terlihat senang.
Cinderella kemudian berlari lagi,
selagi sang raksasa terjatuh. Namun dengan segera, sang raksasa bangkit dan
mengejar Cinderella.
Akibat semburan air yang banyak
tadi, tanah di sekitar sang raksasa menjadi sangat becek, dan itu
menyulitkannya untuk melangkahkan kakinya.
“Dasar kau, wanita licik!”
Sang raksasa terus mengejar
Cinderella, dan untuk kedua kalinya sang raksasa sudah sangat dekat dengan Cinderella.
“Kali ini takkan kubiarkan kau
mengerjaiku lagi!”
Cinderella kembali melemparkan isi
kantung lainnya ke arah sang raksasa. Namun kali ini sang raksasa menangkap isi
kantung tersebut agar tidak terjatuh di tanah. Ternyata sebuah cabai. Genggaman
sang raksasa begitu kuat sehingga menghancurkan cabai-cabai tersebut. Tiba-tiba
muncullah akar-akar berduri dari balik genggaman tangan sang raksasa. Akar-akar
berduri tersebut menyebar hingga ke tubuh sang raksasa, sehingga membuat
kulitnya terluka dan kemudian terjatuh untuk kedua kalinya.
Kini Cinderella hanya mempunyai
satu kantung lagi. Namun terlihat bahwa sang raksasa masih begitu kuat untuk
menangkap Cinderella.
Cinderella berhenti berlari, dia
terjebak diantara tebing-tebing tinggi yang mengelilinginya. Sang raksasa semakin mendekat. Cinderella
melihat isi kantung yang terakhir, ternyata sebuat kacang kedelai.
Ketika sang raksasa sudah sangat
dekat dengannya, Cinderella pun melemparkan kacang-kacang tersebut ke tanah,
tepat di ujung jari-jari kaki sang raksasa.
“Sekarang tak ada jalan keluar lagi
untukmu rambut emas! Hahahaha!”
Tiba-tiba muncul genangan lumpur
dari balik kaki sang raksasa, genangannya semakin lebar dan dalam, bahkan Cinderella
pun tak bisa menghindar dari genangan tersebut. Tak ada jalan keluar lain
selain memanjat tebing yang tinggi itu.
“Baiklah rambut emas, aku rasa kita akan mati bersama
disini!”
Genangan lumpur tersebut semakin
lebar dan dalam, hingga setengah badan sang raksasa pun tenggelam di dalamnya.
“Ohh tidak, bagaimana ini?”
Tiba-tiba terdengar suara pria dari
atas tebing.
“Hey gadis cantik, naik lah!”
Seuntas tali yang panjang menjulur
dari atas tebing, Cinderella pun memanjat tebing dengan tali tersebut.
“Syukurlah kau selamat!”
Cinderella benar-benar
terselamatkan dengan bantuan pria tadi, sedangkan sang raksasa telah tenggelam
dan lenyap ke dalam lumpur tadi.
“Kau, kau seorang pangeran!” Kata
Cinderella mengenali seragam pria tersebut.
“Tentu saja, gadis rambut emas!”
“Da … dari mana kau tahu? Aku sudah
tak lagi memakai gaun itu?”
“Bagaimana aku tak tahu, seorang
wanita cantik yang sedang dikejar-kejar oleh raksasa.”
Pangerang mengambil sesuatu dari
kantung yang ada di kudanya. Sepasang sepatu kaca yang berkilau, kemudian
menundukkan diri, memakaikan sepatu tersebut kepada Cinderella dan mereka
berdua pulang bersama ke istana.
Keesokan harinya, sang pangeran pun
melamar Cinderella, dan mereka kini hidup bahagia selamanya.
-Tamat-