Pages

Monday, March 30, 2015

"MODO SI KOMODO"

Modo Concept Art

Modo, itulah kata yang tersirat ketika melihat wujud hewan luar biasa yang satu ini. Entah sudah ada yang menggunakannya atau belum, yang jelas nama tokoh komodo yang lumrah di dengar masyarakat Indonesia adalah  Si Komo, tokoh komodo di era 80'an.

Minggu 29 Maret 2015, pukul 22:00 tepat dimana teman lamaku menghubungiku lewat Facebook. Secara lugas mengajakku ikut serta dalam lomba membuat stiker di Line. Bara namanya, berhubung dia tak terlalu mahir dalam gambar-menggambar, tak heran dia menghubungiku. Bak simbiosis mutualisme, aku yang saat ini tak memegang laptop sebagai media desain pun merasa terbantu. Melihat nominal hadiah yang menggiurkan, aku pun dengan lugas pula menerima tawaran tersebut.

Tak lama kemudian, Bara memberiku beberapa konsep, tanpa pikir panjang dan tidak terlalu rumit. Terlahirlah ide membuat tokoh yang sangat Indonesia. Viola!!, Komodo.

FLASH FICTION

Flash Fiction Oleh Aliza Kusuma 

"LUKISAN MAUT"
Lomba melukis diadakan esok hari. Sebagai pelukis aku pun turut ikut serta. Kulukislah lukisan piramida mata satu. Tak tahu menahu, seseorang menembakku.


"AKU DAN ANGEL"
Aku dan Angel sudah dua bulan berkenalan. Kami memutuskan untuk menikah. Sehari setelah menikah, kuceraikan Angel. Dia tak pernah mau membuka celana dalamnya.


"LIBURANKU"
Liburan sekolah telah tiba. Teman-teman mengajakku wisata ke Dufan. Mereka memaksaku naik wahana Roaller Coaster, namun ku tolak. Esok harinya, aku bersedih melihat nama mereka terpapang di koran

Thursday, March 19, 2015

CERPEN (ii) “PULANG”



“PULANG”
Oleh: Aliza Kusuma

Jum’at, tepat pukul 09:00 AM. Cuaca begitu terik. Bahkan topi pet mahal bermerek Dolce & Gabbana buatan Paris ini pun tak mampu menangkal panas mentari. Sesegera mungkin aku masuk, melewati pintu kaca yang baru saja dibersihkan petugas kebersihan Bank. Hela nafasku, melihat antrean panjang bak ular tangga dengan pembatas merahnya.  Tak heran, Bank ini sudah buka sejak pukul 07:00 AM tadi pagi. 

Setelah setengah jam aku mengantre. Akhirnya tiba giliranku. Langkah tegapku menuju meja Teller. Tatapku tak tertahankan melihat pegawai bank nan cantik jelita, hidungnya tipis, bibirnya manis dengan kilauan lipstik merah. Tepatnya, itu merah marun. Rambutnya yang lurus, terikat kencang ke belakang bak seorang Gheisa. Warnanya hitam, hitam kebiruan. Tidak, itu hitam keunguan. Perawakannya tinggi semampai, entah dia ini mantan model atau bukan? Aku langsungkan niatku menarik tabungan. Yah, 1 Miliyar Rupiah. Hari ini aku sudah berjanji untuk membayar mobil Lamborgini yang sudah lama ku idam-idamkan itu. Suaranya terdengar miris, begitu kecil. Mesin penghitung uang bergerak cepat di arah pukul 11:00. Tak sengaja kulihat dadanya yang besar di balik seragam orangenya. Terpasang papan nama bertuliskan “Maria”. Maria Kusuma. 

Sudahlah terhitung sejumlah 1 Miliyar Rupiah. Ku tarik ransel besar dan biru Consina-ku dari belakang punggungku. Tiba-tiba seorang wanita paruh baya di belakangku berceloteh. Berteriak agak keras seperti komandan ABRI yang sedang melatih para tentaranya. Namun melengking. Entah mungkin kesabarannya terkuras saat lamanya aku bertransaksi. Tubuhnya sangat gemuk. Hingga kalung permata hijaunya hampir tak terlihat. Tertutup onggokan daging leher dan dadanya. 

Yap, 1 Miliyar telah ku rapihkan. Serapih ransel besar yang berisikan uang. Aku pun selesai dengan pemandangan bidadari Asia tadi. Ku balikan badan ke arah pintu keluar. Pintu kaca yang bersih dan berkilau tadi. Semakin jauh dari meja Teller. Semakin dekat dengan pintu keluar. Hampir dekat. Ku pelankan langkah, sembari sedikit menoleh ke belakang dengan tempo yang sedikit pula. Mungkin terakhir kalinya ku lihat mbak Maria yang satu itu. Sebagaimana tugasnya, ku lihat dia sedang tertunduk, terpaku ke mesin penghitung uang. Sedikit terhalang dengan lebarnya pundak wanita gemuk paruh  baya tadi. Tak hanya itu. Kepala bulatnya menengok ke arahku bagaikan roda depan mobil yang tengah belok ke kanan. Matanya menyipit, sembari menjulurkan lidah lengketnya tepat di wajah ku.

Teringat kembali bahwa ada sejumlah Miliyar di ranselku. Rasa was-was melihat orang berlalu-lalang di dalam Bank. Ku coba tuk tidak terlihat tegang dan resah seperti orang yang baru saja menarik uang 1 Miliyar Rupiah. Belum sampai di ujung pintu kaca. Seorang pria berkulit kecoklatan dengan tubuhnya yang kekar tiba-tiba menghadangku. Menatapku sejenak dengan tatapan sinis dan tiba-tiba tersenyum manis. Seolah-olah dia baru saja melihat neneknya sedang berenang menggunakan bikini dan celana dalam yang bergambarkan Donald Bebek. Dari seragamnya, tentu dia seorang satpam. Satpam Bank ini. Yang hanya ingin menyapaku selayaknya satpam-satpam lain yang bekerja di Bank. Tiba-tiba terdengar suara teriakan wanita dari arah belakang. Ya, aku ingat suara itu. Suara wanita gemuk tadi. Ku tolehkan badanku ke belakang. Terlihat semua orang tengah tertunduk. Tertunduk layaknya kumpulan bebek yang akan diberi pakan. Kecuali satu orang. Satu wanita bertubuh langsing dan tinggi. Wanita dengan rambut hitamnya yang tergurai lurus dan panjang. Berdiri tepat di atas meja Teller, sembari memegang senapan laras panjang bertuliskan AK47.

Mulutku tercengang. Terdiam sejenak. Panik, heran, menakjubkan. Ya, dia adalah mbak Maria. Bibir manis merahnya takkan pernah ku lupakan. Ya, dia memang mbak Maria. Maria Kusuma. Namun dengan seragam yang berbeda. Pakaian serba hitamnya mengingatkan ku akan tokoh Black Widow yang diperankan Scarlett Johanson. Aku semakin tercengang saat dia menatapku dengan pakaian seperti itu. Tatapannya lurus tajam ke arahku. Sedikit tersenyum centil dan mengankat senapannya dan  BANG!! Aku pun dengan lincah segera menghindar. Seolah-olah sedang melakukan olah raga scot jump. Kubantingkan diriku ke lantai. Berdiri kembali dan segera lari. Tidak, aku tak sempat berlari. Kaki pria kekar dengan seragam satpam tadi telah menyandungku dengan sengaja dan BRUKK!!

Cahaya putih menyilaukan. Entah ini mimpi atau bukan. Aku terbaring lemas. Entah di rumah sakit atau bukan. Namun kasurnya terasa kasar. Ya, bagaikan beras, atau mungkin pasir. Syukurlah, aku pikir kejadian tadi telah membunuhku. Kupejamkan saja mataku. Namun sinar putih tadi tetap dapat menembus kulit kelopak mataku. Tiba-tiba terdengar suara. Suara pria dengan nada yang berat. Suara yang mengingatkanku pada temanku Zajran. Berkata dengan lantang 
“Siapa Tuhanmu?”

"FILM “IN TIME” GAMBARAN WAKTU ADALAH UANG"



"FILM “IN TIME” GAMBARAN WAKTU ADALAH UANG"
Oleh: Aliza Kusuma
 
            Film yang disutradari oleh Andrew Niccol ini, memang memiliki alur cerita yang sangat unik dan konsep yang baru yang membuatnya berbeda dengan film lainnya. Dalam film ini, digambarkan bahwa setiap manusia, secara tiba-tiba memiliki sebuah jam hidup yang tercantum di lengannya masing-masing yang entah dari mana datangnya. Hal tersebut membuat seluruh transaksi dilakukan dengan menukarkan masa hidupnya tersebut. Ketika masa hidup  mereka telah habis maka dengan sendirinya mereka akan mati.


Film bergenre sci-fi thriller ini menggambarkan perjuangan Will Salas (Justin Timberlake) untuk mempertahankan masa hidupnya. Cerita dimulai saat Will sebagai karakter utama yang tinggal di zona waktu yang disebut Ghettos (tempat masyarakat dengan masa hidup yang rendah) dan dia mulai memberontak dan memberanikan diri menyusup serta menyamar sebagai orang dari New Greenwich. Hal tersebut terjadi setelah Will mendapatkan masa hidup lebih dari seabad dari Henry Hamilton (Matt Bomer), yang ditemui Will saat dia berkunjung ke salah satu bar di Ghettos, dimana saat itu Will menyelamatkan Henry yang berada dalam ancaman Fortis alias Minuteman (Alex Pettyfer). Masuknya Will ke New Greenwhich tercium oleh seorang para Timekeeper dan Raymon Leon (Cillian Murphy) sebagai kepalanya. Sehingga memaksa Will untuk menyandra Sylvia Weis (Amanda Seyfried) anak salah seorang bangsawan di New Greenwhich, demi mempertahankan masa hidupnya.

 “Yang miskin sekarat dan yang kaya abadi”, mungkin itulah kata-kata yang dapat menggambarkan keadaan yang ada dalam film ini. Dimana para bangsawan di New Greenwhich kurang menghargai masa hidupnya dengan berprilaku boros disebabkan oleh masa hidupnya yang berlimpah yang membuatnya hidup cukup lama. Sedangkan Ghettos dimana para masyarakatnya harus benar-benar menghemat masa hidupnya yang sangat sedikit, semua aktivitas dijalankan dengan cepat, dan bahkan banyak mayat berserakan di tempat umum karena mereka tidak dapat mempertahankan masa hidupnya. Hal tersebut tak berbeda jauh dengan kehidupan nyata, dimana banyak masyarakat miskin yang mati dan hidupnya sejahtera karena mereka tidak memiliki uang untuk membeli makanan. Begitu juga dengan orang kaya yang berlimpahkan harta yang hidup secara hedon, yang bersenang-senang tanpa menghiraukan sesamanya yang mati karna ketidak-beradaannya.

PUISI (ii) "YAH SUDAHLAH..."



“Yah Sudahlah…”
Oleh: Aliza Kusuma

Entah apa yang kurasakan?
Tangan jemari,
Lutut kaki,
Ujung hidung
Semua gemetaran

            Apa ini nyata?
            Apa ini benar?
            Tidak, jelas ini salah
            Ya, ini jelas salah
            Yah sudahlah…

Angin disini memang kencang
Dingin bising
Bak dunia ini buat ku pusing
Harta, tahta, cuih… wanita
Semua buat ku buta
Tak benci
Hanya terlalu cinta
           
Tatap ku ke bawah
Entah yakin atau tidak
Gedung ini pun cukup tinggi
Setinggi impianku
Kali terakhir ku disini
Yah sudahlah…

CERPEN (i) DARI HURUF "T" - "TANGISAN TANTE TESSY"



"TANGISAN TANTE TESSY"
Oleh: Aliza Kusuma

Teddy teringat tantenya. Tangis Teddy tersedu-sedu. “Tabah Teddy… tabahlah!”. Tragedi tantenya tak terlupakan. Teddy terhantui truk tiap teddy tertidur. “Tante Tessy.. tante Tessy… Tidaak!” Terbayang-bayang tewasnya tante Tessy. Tante Tessy tertabrak terus terlindas truk. “Toloong.. toloong!” teriak tante Tessy. Teddy tak tahan tante Tessy teriak-teriak. Terpaksa Teddy tarik tangan tante Tessy, tapi tangan tante Tessy telah terputus. Tante Tessy tak terselamatkan. Tante Tessy terkoyak-koyak. Tubuhnya telah terpisah-pisah. Telinga tante Tessy terdampar. Tamatlah tante Tessy. Tragedi terlindasnya tante Tessy terjadi tiba-tiba. Tangisan Teddy tak tertahankan. “Tante Tessy… tidaak!” teriak Teddy. Truk tersebut terlihat takut tentang terlindasnya tante Tessy. Truk tersebut tak terlalu turun tangan. “Truk tai.. truk tolol, truk tengik!”. Teddy teramat terpukul. Terhitung tujuh tahun telah terlampaui. Tiap Teddy tidur, terdengar tangisan tante Tessy. “Teddy… Teddy, tolong tante, Teddy… tolong tante!!”.

PUISI (i) "TUGAS AKHIR"

"TUGAS AKHIR"
Oleh: Aliza Kusuma

Panas sang surya, teriknya melingkar
Hijaunya maya, penuh semak belukar
Batang nan tinggi, hingga ke tepian
Butir embun pagi, temani daun kesepian
Payung hijau, hijau kekuningan,
hijau kecoklatan
Payung teduh, teduh dibalik kemacetan
 
                        Tempat sedikit, masalah banyak
                        Memang kecil dan sempit,
                        ‘mun terkadang membuat nyenyak
                        Bagaimana masalah tak banyak?
                        Mahasiswa berlimpah,
                        asik tertidur di kasur,
            hingga mendengkur dengan nyenyak

Kejam tugas akhir merajarela,
takkan berakhir, asalkan kita rela
Tak segan mereka mampir bermain biola
Di taman… yang hampir tak berbala
Menghibur lahir menatap kak Mala
Kejam tugas akhir merajarela,
terpaksa mampir, duduk ditaman atau bersila