"FILM “IN TIME” GAMBARAN WAKTU
ADALAH UANG"
Oleh: Aliza Kusuma
Film yang disutradari oleh Andrew
Niccol ini, memang memiliki alur cerita yang sangat unik dan konsep yang baru
yang membuatnya berbeda dengan film lainnya. Dalam film ini, digambarkan bahwa
setiap manusia, secara tiba-tiba memiliki sebuah jam hidup yang tercantum di
lengannya masing-masing yang entah dari mana datangnya. Hal tersebut membuat
seluruh transaksi dilakukan dengan menukarkan masa hidupnya tersebut. Ketika masa
hidup mereka telah habis maka dengan
sendirinya mereka akan mati.
Film
bergenre sci-fi thriller ini menggambarkan perjuangan Will Salas (Justin
Timberlake) untuk mempertahankan masa hidupnya. Cerita dimulai saat Will sebagai
karakter utama yang tinggal di zona waktu yang disebut Ghettos (tempat masyarakat
dengan masa hidup yang rendah) dan dia mulai memberontak dan memberanikan diri
menyusup serta menyamar sebagai orang dari New Greenwich. Hal tersebut terjadi
setelah Will mendapatkan masa hidup lebih dari seabad dari Henry Hamilton (Matt
Bomer), yang ditemui Will saat dia berkunjung ke salah satu bar di Ghettos,
dimana saat itu Will menyelamatkan Henry yang berada dalam ancaman Fortis alias
Minuteman (Alex Pettyfer). Masuknya Will ke New Greenwhich tercium oleh seorang
para Timekeeper dan Raymon Leon (Cillian Murphy) sebagai kepalanya. Sehingga
memaksa Will untuk menyandra Sylvia Weis (Amanda Seyfried) anak salah seorang
bangsawan di New Greenwhich, demi mempertahankan masa hidupnya.
“Yang miskin sekarat dan yang kaya abadi”,
mungkin itulah kata-kata yang dapat menggambarkan keadaan yang ada dalam film
ini. Dimana para bangsawan di New Greenwhich kurang menghargai masa hidupnya
dengan berprilaku boros disebabkan oleh masa hidupnya yang berlimpah yang membuatnya
hidup cukup lama. Sedangkan Ghettos dimana para masyarakatnya harus benar-benar
menghemat masa hidupnya yang sangat sedikit, semua aktivitas dijalankan dengan
cepat, dan bahkan banyak mayat berserakan di tempat umum karena mereka tidak
dapat mempertahankan masa hidupnya. Hal tersebut tak berbeda jauh dengan
kehidupan nyata, dimana banyak masyarakat miskin yang mati dan hidupnya
sejahtera karena mereka tidak memiliki uang untuk membeli makanan. Begitu juga
dengan orang kaya yang berlimpahkan harta yang hidup secara hedon, yang
bersenang-senang tanpa menghiraukan sesamanya yang mati karna
ketidak-beradaannya.

No comments:
Post a Comment