“PULANG”
Oleh: Aliza Kusuma
Jum’at, tepat pukul 09:00 AM.
Cuaca begitu terik. Bahkan topi pet mahal bermerek Dolce & Gabbana buatan Paris ini pun tak mampu menangkal panas
mentari. Sesegera mungkin aku masuk, melewati pintu kaca yang baru saja
dibersihkan petugas kebersihan Bank. Hela nafasku, melihat antrean panjang bak
ular tangga dengan pembatas merahnya.
Tak heran, Bank ini sudah buka sejak pukul 07:00 AM tadi pagi.
Setelah setengah jam aku
mengantre. Akhirnya tiba giliranku. Langkah tegapku menuju meja Teller. Tatapku tak tertahankan melihat
pegawai bank nan cantik jelita, hidungnya tipis, bibirnya manis dengan kilauan lipstik
merah. Tepatnya, itu merah marun. Rambutnya yang lurus, terikat kencang ke
belakang bak seorang Gheisa. Warnanya
hitam, hitam kebiruan. Tidak, itu hitam keunguan. Perawakannya tinggi semampai,
entah dia ini mantan model atau bukan? Aku langsungkan niatku menarik tabungan.
Yah, 1 Miliyar Rupiah. Hari ini aku sudah berjanji untuk membayar mobil Lamborgini yang sudah lama ku
idam-idamkan itu. Suaranya terdengar miris, begitu kecil. Mesin penghitung uang
bergerak cepat di arah pukul 11:00. Tak sengaja kulihat dadanya yang besar di
balik seragam orangenya. Terpasang papan nama bertuliskan “Maria”. Maria
Kusuma.
Sudahlah terhitung sejumlah 1
Miliyar Rupiah. Ku tarik ransel besar dan biru Consina-ku dari belakang punggungku. Tiba-tiba seorang wanita paruh
baya di belakangku berceloteh. Berteriak agak keras seperti komandan ABRI yang
sedang melatih para tentaranya. Namun melengking. Entah mungkin kesabarannya
terkuras saat lamanya aku bertransaksi. Tubuhnya sangat gemuk. Hingga kalung
permata hijaunya hampir tak terlihat. Tertutup onggokan daging leher dan
dadanya.
Yap, 1 Miliyar telah ku rapihkan.
Serapih ransel besar yang berisikan uang. Aku pun selesai dengan
pemandangan bidadari Asia tadi. Ku balikan badan ke arah pintu keluar. Pintu
kaca yang bersih dan berkilau tadi. Semakin jauh dari meja Teller. Semakin dekat dengan pintu keluar. Hampir dekat. Ku
pelankan langkah, sembari sedikit menoleh ke belakang dengan tempo yang
sedikit pula. Mungkin terakhir kalinya ku lihat mbak Maria yang satu itu.
Sebagaimana tugasnya, ku lihat dia sedang tertunduk, terpaku ke mesin penghitung uang.
Sedikit terhalang dengan lebarnya pundak wanita gemuk paruh baya tadi. Tak hanya itu. Kepala bulatnya
menengok ke arahku bagaikan roda depan mobil yang tengah belok ke kanan.
Matanya menyipit, sembari menjulurkan lidah lengketnya tepat di wajah ku.
Teringat kembali bahwa ada
sejumlah Miliyar di ranselku. Rasa was-was melihat orang berlalu-lalang di
dalam Bank. Ku coba tuk tidak terlihat tegang dan resah seperti orang yang baru saja
menarik uang 1 Miliyar Rupiah. Belum sampai di ujung pintu kaca. Seorang pria
berkulit kecoklatan dengan tubuhnya yang kekar tiba-tiba menghadangku.
Menatapku sejenak dengan tatapan sinis dan tiba-tiba tersenyum manis.
Seolah-olah dia baru saja melihat neneknya sedang berenang menggunakan bikini
dan celana dalam yang bergambarkan Donald Bebek. Dari seragamnya, tentu dia
seorang satpam. Satpam Bank ini. Yang hanya ingin menyapaku selayaknya
satpam-satpam lain yang bekerja di Bank. Tiba-tiba terdengar suara teriakan
wanita dari arah belakang. Ya, aku ingat suara itu. Suara wanita gemuk tadi. Ku
tolehkan badanku ke belakang. Terlihat semua orang tengah tertunduk. Tertunduk
layaknya kumpulan bebek yang akan diberi pakan. Kecuali satu orang. Satu wanita
bertubuh langsing dan tinggi. Wanita dengan rambut hitamnya yang tergurai lurus dan panjang. Berdiri tepat di atas meja Teller, sembari memegang senapan laras panjang bertuliskan AK47.
Mulutku tercengang. Terdiam sejenak. Panik,
heran, menakjubkan. Ya, dia adalah mbak Maria. Bibir manis merahnya takkan
pernah ku lupakan. Ya, dia memang mbak Maria. Maria Kusuma. Namun dengan
seragam yang berbeda. Pakaian serba hitamnya mengingatkan ku akan tokoh Black Widow yang diperankan Scarlett Johanson. Aku semakin tercengang
saat dia menatapku dengan pakaian seperti itu. Tatapannya lurus tajam ke
arahku. Sedikit tersenyum centil dan mengankat senapannya dan BANG!! Aku pun dengan lincah segera
menghindar. Seolah-olah sedang melakukan olah raga scot jump. Kubantingkan diriku ke lantai. Berdiri kembali dan
segera lari. Tidak, aku tak sempat berlari. Kaki pria kekar dengan seragam satpam
tadi telah menyandungku dengan sengaja dan BRUKK!!
Cahaya putih menyilaukan. Entah
ini mimpi atau bukan. Aku terbaring lemas. Entah di rumah sakit atau bukan.
Namun kasurnya terasa kasar. Ya, bagaikan beras, atau mungkin pasir. Syukurlah,
aku pikir kejadian tadi telah membunuhku. Kupejamkan saja mataku. Namun sinar
putih tadi tetap dapat menembus kulit kelopak mataku. Tiba-tiba terdengar
suara. Suara pria dengan nada yang berat. Suara yang mengingatkanku pada
temanku Zajran. Berkata dengan lantang
“Siapa Tuhanmu?”
Hehehe ada deh, itu tergantung interpretasi pembacanya.. (kalo misalnya gw jawab dia mati?) Apa ada alur yg janggal? (Mohon dimaklum, jarang nulis)
ReplyDeleteZajran hehehehe.
ReplyDelete