Pages

Thursday, March 19, 2015

CERPEN (ii) “PULANG”



“PULANG”
Oleh: Aliza Kusuma

Jum’at, tepat pukul 09:00 AM. Cuaca begitu terik. Bahkan topi pet mahal bermerek Dolce & Gabbana buatan Paris ini pun tak mampu menangkal panas mentari. Sesegera mungkin aku masuk, melewati pintu kaca yang baru saja dibersihkan petugas kebersihan Bank. Hela nafasku, melihat antrean panjang bak ular tangga dengan pembatas merahnya.  Tak heran, Bank ini sudah buka sejak pukul 07:00 AM tadi pagi. 

Setelah setengah jam aku mengantre. Akhirnya tiba giliranku. Langkah tegapku menuju meja Teller. Tatapku tak tertahankan melihat pegawai bank nan cantik jelita, hidungnya tipis, bibirnya manis dengan kilauan lipstik merah. Tepatnya, itu merah marun. Rambutnya yang lurus, terikat kencang ke belakang bak seorang Gheisa. Warnanya hitam, hitam kebiruan. Tidak, itu hitam keunguan. Perawakannya tinggi semampai, entah dia ini mantan model atau bukan? Aku langsungkan niatku menarik tabungan. Yah, 1 Miliyar Rupiah. Hari ini aku sudah berjanji untuk membayar mobil Lamborgini yang sudah lama ku idam-idamkan itu. Suaranya terdengar miris, begitu kecil. Mesin penghitung uang bergerak cepat di arah pukul 11:00. Tak sengaja kulihat dadanya yang besar di balik seragam orangenya. Terpasang papan nama bertuliskan “Maria”. Maria Kusuma. 

Sudahlah terhitung sejumlah 1 Miliyar Rupiah. Ku tarik ransel besar dan biru Consina-ku dari belakang punggungku. Tiba-tiba seorang wanita paruh baya di belakangku berceloteh. Berteriak agak keras seperti komandan ABRI yang sedang melatih para tentaranya. Namun melengking. Entah mungkin kesabarannya terkuras saat lamanya aku bertransaksi. Tubuhnya sangat gemuk. Hingga kalung permata hijaunya hampir tak terlihat. Tertutup onggokan daging leher dan dadanya. 

Yap, 1 Miliyar telah ku rapihkan. Serapih ransel besar yang berisikan uang. Aku pun selesai dengan pemandangan bidadari Asia tadi. Ku balikan badan ke arah pintu keluar. Pintu kaca yang bersih dan berkilau tadi. Semakin jauh dari meja Teller. Semakin dekat dengan pintu keluar. Hampir dekat. Ku pelankan langkah, sembari sedikit menoleh ke belakang dengan tempo yang sedikit pula. Mungkin terakhir kalinya ku lihat mbak Maria yang satu itu. Sebagaimana tugasnya, ku lihat dia sedang tertunduk, terpaku ke mesin penghitung uang. Sedikit terhalang dengan lebarnya pundak wanita gemuk paruh  baya tadi. Tak hanya itu. Kepala bulatnya menengok ke arahku bagaikan roda depan mobil yang tengah belok ke kanan. Matanya menyipit, sembari menjulurkan lidah lengketnya tepat di wajah ku.

Teringat kembali bahwa ada sejumlah Miliyar di ranselku. Rasa was-was melihat orang berlalu-lalang di dalam Bank. Ku coba tuk tidak terlihat tegang dan resah seperti orang yang baru saja menarik uang 1 Miliyar Rupiah. Belum sampai di ujung pintu kaca. Seorang pria berkulit kecoklatan dengan tubuhnya yang kekar tiba-tiba menghadangku. Menatapku sejenak dengan tatapan sinis dan tiba-tiba tersenyum manis. Seolah-olah dia baru saja melihat neneknya sedang berenang menggunakan bikini dan celana dalam yang bergambarkan Donald Bebek. Dari seragamnya, tentu dia seorang satpam. Satpam Bank ini. Yang hanya ingin menyapaku selayaknya satpam-satpam lain yang bekerja di Bank. Tiba-tiba terdengar suara teriakan wanita dari arah belakang. Ya, aku ingat suara itu. Suara wanita gemuk tadi. Ku tolehkan badanku ke belakang. Terlihat semua orang tengah tertunduk. Tertunduk layaknya kumpulan bebek yang akan diberi pakan. Kecuali satu orang. Satu wanita bertubuh langsing dan tinggi. Wanita dengan rambut hitamnya yang tergurai lurus dan panjang. Berdiri tepat di atas meja Teller, sembari memegang senapan laras panjang bertuliskan AK47.

Mulutku tercengang. Terdiam sejenak. Panik, heran, menakjubkan. Ya, dia adalah mbak Maria. Bibir manis merahnya takkan pernah ku lupakan. Ya, dia memang mbak Maria. Maria Kusuma. Namun dengan seragam yang berbeda. Pakaian serba hitamnya mengingatkan ku akan tokoh Black Widow yang diperankan Scarlett Johanson. Aku semakin tercengang saat dia menatapku dengan pakaian seperti itu. Tatapannya lurus tajam ke arahku. Sedikit tersenyum centil dan mengankat senapannya dan  BANG!! Aku pun dengan lincah segera menghindar. Seolah-olah sedang melakukan olah raga scot jump. Kubantingkan diriku ke lantai. Berdiri kembali dan segera lari. Tidak, aku tak sempat berlari. Kaki pria kekar dengan seragam satpam tadi telah menyandungku dengan sengaja dan BRUKK!!

Cahaya putih menyilaukan. Entah ini mimpi atau bukan. Aku terbaring lemas. Entah di rumah sakit atau bukan. Namun kasurnya terasa kasar. Ya, bagaikan beras, atau mungkin pasir. Syukurlah, aku pikir kejadian tadi telah membunuhku. Kupejamkan saja mataku. Namun sinar putih tadi tetap dapat menembus kulit kelopak mataku. Tiba-tiba terdengar suara. Suara pria dengan nada yang berat. Suara yang mengingatkanku pada temanku Zajran. Berkata dengan lantang 
“Siapa Tuhanmu?”

2 comments:

  1. Hehehe ada deh, itu tergantung interpretasi pembacanya.. (kalo misalnya gw jawab dia mati?) Apa ada alur yg janggal? (Mohon dimaklum, jarang nulis)

    ReplyDelete