“RIANG
… OHH RIANG”
Oleh Aliza Kusuma
Ayam berkokok adalah
pertanda seseorang harus bangun dari tidurnya. Tapi tidak buatku, tak ada ayam
disini, yang ada hanya jangkrik. Ketika jangkrik berhenti berderik, aku bangun
dari tempat tidurku, tempat tidur yang tak begitu nyaman, dank kau tahu, itu
sedikit bau.Yang jelas bukan bauku, aku serius, aku cukup sering membersihkan
diriku. Entah mungkin bau keringat orang-orang disini, mereka semua datang
kesini setiap hari. Sudah hampir setahun
aku disini, di bangunan yang besar ini, banyak pepohonan disekitarnya. Namun,
kebisingan yang entah dari mana datangnya, membuatku tak nyaman. Hanya disaat
gelap kebisingan itu hilang, syukurlah, ada waktu dimana aku bisa tidur.
Jangkrik berhenti
berderik, disitulah aku bangun. Tak ada waktu untuk tertidur lebih lama lagi,
atau kau tak akan pernah bangun lagi. Aku sudah lama disini, itu benar. Maka
dari itu, aku tahu rutinitas disini. Aku tahu semua jalan disini, tak susah
buatku untuk mengenyangkan diriku. Walau terkadang aku harus berbagi dengan
yang lainnya. Setiap hari, aku berjalan untuk hidupku. Aku tak seperti yang
lainnya, yang kadang tidur di siang hari. Ya, ini lah hidup bagiku, hidup dalam
kelalu-lalangan. Terkadang aku merasa iba melihat anak-anak kecil yang
berkeliaran, entah dimana orang tua mereka. Entah kapan aku akan mempunyai anak
seperti itu.
Hari ini aku berencana
mengunjungi Riang, gadis manis yang tinggal di gedung kecil berwarna ungu,
tempat dimana makanan-makanan lezat berasal. Terkadang aku heran, mengapa
mereka memasukannya ke dalam kotak dingin itu. Riang sangatlah cantik,
senyumnya manis, dan matanya yang coklat itu sering kali membuatku meleleh.
Riang selalu baik padaku, dia biasanya menyajikanku makanan. Bakso ikan, sosis
panggang, dan yang paling kusuka yaitu nasi goreng ikan asin. Entah mengapa dia
begitu baik padaku, apa karna aku tampan, tidak, aku tak setampan itu, bahkan
aku tak setampan Gerang. Pria yang kerap mendapatkan banyak perhatian wanita.
Gerang kadang selalu menggoda Riang saat mereka berdua bertemu. Tapi kupikir
Riang tak begitu menyukai sikap Gerang terhadapnya. Yang jelas, hari ini adalah
hari special bagiku, hari ini aku akan menyatakan perasaan yang telah lama ku
pendam kepada Riang.
Sampailah aku di gedung
ungu tempat Riang berada, ku lewati pintu kaca besar itu, namun tak sedikit pun
kulihat Riang, bahkan di meja kuning melingkar di dekat pintu. Riang sangat
suka meja itu, meja yang mengingatkannya dengan cahaya bulat di langit saat
siang hari. Aku pun mencoba masuk ke tempat dimana para makanan dibuat, sebut
saja surga. Benar saja, Riang terlihat sedang duduk di dekat kotak dingin.
Hanya duduk terdiam, bagaikan bunga mawar putih yang tegak lurus tertancap di
potnya yang berada di samping tempat tidurku.
Tak ada tumpukan ikan
lezat, tak ada bakso ikan, sosis panggan, nasi goreng ikan, bahkan nyanyian
malam bulan purnama sekali pun. Percayalah, suaraku ini sangat buruk. Yang ada
hanya sepasang tangan dan kaki, dengan sedikiti bumbu percaya diri. Jantungku
berdebar kencang, tiap satu langkah kulewati, seratus detupan jantungku
berdebar. Semakin mendekat dan semakin dekat, perlahan Riang menatapku, matanya
begitu indah, bulat dan indah. Tak kusangka Riang terlihat lebih cantik dengan
jarak sedekat ini. Ingin rasanya seperti ini selamanya. Tidak, berhenti
berkhayal, aku ingin lebih dari sekedar berada di dekatnya dan hanya bisa
menatap paras cantiknya. Baiklah, kunaikkan percaya diri ku, kutarik nafas
dalam-dalam, dan kuhembuskan kembali sebanyak tiga kali. Aku tahu ini ide yang
buruk, tapi sudahlah, setidaknya ini tak lebih buruk dibandingkan tersedak bola
bulu.
Pertama-tama, kusapa
dia terlebih dahulu. Suatu hal yang aneh bukan, ketika Riang yang biasanya
terlihar riang, hanya terdiam di surga. Apa mungkin dia sedang menunggu
seseorang, apa mungkin Gerang kembali mengganggunya, entahlah. Kuberkata dalam
hati,
“Riang, ohh Riang, ada
apa gerangan?”
Belum sempat kami
berdua bercakap-cakap. Tempat sampah besar berwarna hijau berroda yang penuh
dengan sisa makanan dan sampah-sampah yang sangat bau tiba-tiba terjatuh sangat
keras, hingga isinya berserakan dan mengotori lantai surga.
Terlihat dengan
lantang, berdiri dengan tegaknya Gerang. Tubuhnya besar dan kekar, sangat
berbeda denganku, yang cukup malas untuk berlari dan mengencangkan otot-ototku.
Alis tebal Gerang menukik menutupi sebagian matanya, dahinya mengerut kebawah,
tatapanya lurus tajam tepat ke arahku. Mulutnya bergumam tak jelas, lalu
menyeringai, membuka sebagian mulutnya agar gigi-giginya yang merapat terlihat
olehku.
Gerang bergerak dengan
cepat, melangkah panjang dari tempat dia berdiri, dan berhenti di hadapan ku.
Bahkan hingga hidung kami berdua hampir bersentuhan. Bergumam di depanku,
seolah-olah aku telah menghabiskan semua jatah makan siangnya secara diam-diam.
Entah Gerang sudah mulai gila atau apa, namun parasnya benar-benar penuh
kebencian terhadapku. Tangan kanannya
mengepal dengan kencang, terlihat bagaikan bola bakso ikan yang sering aku
makan. Aku terdiam dan gugup, tangannyamengayun dengan kencang. Benar saja,
Gerang ingin menghantamku. Layaknya seorang pecundang yang pengecut, aku hanya
bisa pasrah dan mengalah menerima hantaman Gerang.
Tak sempat hantaman
Gerang mengenaiku. Tubuhku terjatuh, terhempas kesamping, rasanya seperti
didorong oleh seikat sapu. Tidak, itu bukan sapu, itu Riang. Dengan keras dan
cepat Riang mendorongku. Mungkin dia ingin melindungiku, tentu saja. Seketika
aku tersungkur dan terbaring. Namun apa, hataman keras Gerang pun mengenai
Riang, tak sekedar hantaman, kuku-kuku kecil nan tajam yang ada dibalik kepalan
tangan Gerang pun menyayat pipi manis Riang, pipi yang putih kini berubah
merah. Darah mengalir kencang, Riang merintih kesakitan, mata indahnya
terhalang bola-bola air mata. Riang pun terkapar tak berdaya, berusaha untuk
kembali berdiri di hadapan Gerang.
Aku, yang tengah
terkapar akibat hempasan Riang, hanya bisa berdiam diri melihat betapa
beraninya Riang yang telah menyelamatkanku dan kini sedang berdiri berhadapan
dengan Gerang. Riang memasang raut muka marahnya, menatap Gerang dengan tatapan
sinis melebihi tatapan Gerang terhadapku sebelumnya, memunculkan kuku-kuku
tajamnya yang selama ini tak pernah kulihat, menghempaskannya tepat di wajah
Gerang. Gerang terlihat tak berdaya dan pasrah, sebagaimana pasrahnya aku saat
dia ingin menghantamku. Riang memalingkan mukanya dari Gerang, mengibaskan
buntut halus panjangnya ke muka Gerang, sembari berkata,
“Gerang, kita putus.”
No comments:
Post a Comment