Pages

Wednesday, April 1, 2015

CERPEN (iii) "RIANG ... OHH RIANG"

“RIANG …  OHH RIANG”
Oleh Aliza Kusuma

Ayam berkokok adalah pertanda seseorang harus bangun dari tidurnya. Tapi tidak buatku, tak ada ayam disini, yang ada hanya jangkrik. Ketika jangkrik berhenti berderik, aku bangun dari tempat tidurku, tempat tidur yang tak begitu nyaman, dank kau tahu, itu sedikit bau.Yang jelas bukan bauku, aku serius, aku cukup sering membersihkan diriku. Entah mungkin bau keringat orang-orang disini, mereka semua datang kesini setiap hari.  Sudah hampir setahun aku disini, di bangunan yang besar ini, banyak pepohonan disekitarnya. Namun, kebisingan yang entah dari mana datangnya, membuatku tak nyaman. Hanya disaat gelap kebisingan itu hilang, syukurlah, ada waktu dimana aku bisa tidur.

Jangkrik berhenti berderik, disitulah aku bangun. Tak ada waktu untuk tertidur lebih lama lagi, atau kau tak akan pernah bangun lagi. Aku sudah lama disini, itu benar. Maka dari itu, aku tahu rutinitas disini. Aku tahu semua jalan disini, tak susah buatku untuk mengenyangkan diriku. Walau terkadang aku harus berbagi dengan yang lainnya. Setiap hari, aku berjalan untuk hidupku. Aku tak seperti yang lainnya, yang kadang tidur di siang hari. Ya, ini lah hidup bagiku, hidup dalam kelalu-lalangan. Terkadang aku merasa iba melihat anak-anak kecil yang berkeliaran, entah dimana orang tua mereka. Entah kapan aku akan mempunyai anak seperti itu.

Hari ini aku berencana mengunjungi Riang, gadis manis yang tinggal di gedung kecil berwarna ungu, tempat dimana makanan-makanan lezat berasal. Terkadang aku heran, mengapa mereka memasukannya ke dalam kotak dingin itu. Riang sangatlah cantik, senyumnya manis, dan matanya yang coklat itu sering kali membuatku meleleh. Riang selalu baik padaku, dia biasanya menyajikanku makanan. Bakso ikan, sosis panggang, dan yang paling kusuka yaitu nasi goreng ikan asin. Entah mengapa dia begitu baik padaku, apa karna aku tampan, tidak, aku tak setampan itu, bahkan aku tak setampan Gerang. Pria yang kerap mendapatkan banyak perhatian wanita. Gerang kadang selalu menggoda Riang saat mereka berdua bertemu. Tapi kupikir Riang tak begitu menyukai sikap Gerang terhadapnya. Yang jelas, hari ini adalah hari special bagiku, hari ini aku akan menyatakan perasaan yang telah lama ku pendam kepada Riang.

Sampailah aku di gedung ungu tempat Riang berada, ku lewati pintu kaca besar itu, namun tak sedikit pun kulihat Riang, bahkan di meja kuning melingkar di dekat pintu. Riang sangat suka meja itu, meja yang mengingatkannya dengan cahaya bulat di langit saat siang hari. Aku pun mencoba masuk ke tempat dimana para makanan dibuat, sebut saja surga. Benar saja, Riang terlihat sedang duduk di dekat kotak dingin. Hanya duduk terdiam, bagaikan bunga mawar putih yang tegak lurus tertancap di potnya yang berada di samping tempat tidurku.

Tak ada tumpukan ikan lezat, tak ada bakso ikan, sosis panggan, nasi goreng ikan, bahkan nyanyian malam bulan purnama sekali pun. Percayalah, suaraku ini sangat buruk. Yang ada hanya sepasang tangan dan kaki, dengan sedikiti bumbu percaya diri. Jantungku berdebar kencang, tiap satu langkah kulewati, seratus detupan jantungku berdebar. Semakin mendekat dan semakin dekat, perlahan Riang menatapku, matanya begitu indah, bulat dan indah. Tak kusangka Riang terlihat lebih cantik dengan jarak sedekat ini. Ingin rasanya seperti ini selamanya. Tidak, berhenti berkhayal, aku ingin lebih dari sekedar berada di dekatnya dan hanya bisa menatap paras cantiknya. Baiklah, kunaikkan percaya diri ku, kutarik nafas dalam-dalam, dan kuhembuskan kembali sebanyak tiga kali. Aku tahu ini ide yang buruk, tapi sudahlah, setidaknya ini tak lebih buruk dibandingkan tersedak bola bulu.

Pertama-tama, kusapa dia terlebih dahulu. Suatu hal yang aneh bukan, ketika Riang yang biasanya terlihar riang, hanya terdiam di surga. Apa mungkin dia sedang menunggu seseorang, apa mungkin Gerang kembali mengganggunya, entahlah. Kuberkata dalam hati,

“Riang, ohh Riang, ada apa gerangan?”

Belum sempat kami berdua bercakap-cakap. Tempat sampah besar berwarna hijau berroda yang penuh dengan sisa makanan dan sampah-sampah yang sangat bau tiba-tiba terjatuh sangat keras, hingga isinya berserakan dan mengotori lantai surga.

Terlihat dengan lantang, berdiri dengan tegaknya Gerang. Tubuhnya besar dan kekar, sangat berbeda denganku, yang cukup malas untuk berlari dan mengencangkan otot-ototku. Alis tebal Gerang menukik menutupi sebagian matanya, dahinya mengerut kebawah, tatapanya lurus tajam tepat ke arahku. Mulutnya bergumam tak jelas, lalu menyeringai, membuka sebagian mulutnya agar gigi-giginya yang merapat terlihat olehku.

Gerang bergerak dengan cepat, melangkah panjang dari tempat dia berdiri, dan berhenti di hadapan ku. Bahkan hingga hidung kami berdua hampir bersentuhan. Bergumam di depanku, seolah-olah aku telah menghabiskan semua jatah makan siangnya secara diam-diam. Entah Gerang sudah mulai gila atau apa, namun parasnya benar-benar penuh kebencian terhadapku. Tangan kanannya mengepal dengan kencang, terlihat bagaikan bola bakso ikan yang sering aku makan. Aku terdiam dan gugup, tangannyamengayun dengan kencang. Benar saja, Gerang ingin menghantamku. Layaknya seorang pecundang yang pengecut, aku hanya bisa pasrah dan mengalah menerima hantaman Gerang.

Tak sempat hantaman Gerang mengenaiku. Tubuhku terjatuh, terhempas kesamping, rasanya seperti didorong oleh seikat sapu. Tidak, itu bukan sapu, itu Riang. Dengan keras dan cepat Riang mendorongku. Mungkin dia ingin melindungiku, tentu saja. Seketika aku tersungkur dan terbaring. Namun apa, hataman keras Gerang pun mengenai Riang, tak sekedar hantaman, kuku-kuku kecil nan tajam yang ada dibalik kepalan tangan Gerang pun menyayat pipi manis Riang, pipi yang putih kini berubah merah. Darah mengalir kencang, Riang merintih kesakitan, mata indahnya terhalang bola-bola air mata. Riang pun terkapar tak berdaya, berusaha untuk kembali berdiri di hadapan Gerang.

Aku, yang tengah terkapar akibat hempasan Riang, hanya bisa berdiam diri melihat betapa beraninya Riang yang telah menyelamatkanku dan kini sedang berdiri berhadapan dengan Gerang. Riang memasang raut muka marahnya, menatap Gerang dengan tatapan sinis melebihi tatapan Gerang terhadapku sebelumnya, memunculkan kuku-kuku tajamnya yang selama ini tak pernah kulihat, menghempaskannya tepat di wajah Gerang. Gerang terlihat tak berdaya dan pasrah, sebagaimana pasrahnya aku saat dia ingin menghantamku. Riang memalingkan mukanya dari Gerang, mengibaskan buntut halus panjangnya ke muka Gerang, sembari berkata,

“Gerang, kita putus.”  

No comments:

Post a Comment